UNJ dan Kemendukbangga/BKKBN Gelar Diskusi Pakar Bahas Investasi Pembangunan Manusia Menuju Indonesia Emas 2045

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Kisah Rovan dan Rohmat, Dua Mahasiswa…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Ormawa dan Opmawa UNJ Hadiri Pengukuhan dan Rakernas IKA UNJ Periode 2026–2030

Mifdatul Azahra, Atlet Renang Berprestasi yang Raih Predikat Wisudawan Terbaik FIKK UNJ

Buktikan Diri sebagai Kampus Berdampak, UNJ Tuai Pujian dan Undangan Kolaborasi dari Berbagai Pihak

Wujudkan Visi Kampus Berdampak, UNJ Gelar FGD Diseminasi Pengabdian Masyarakat Program EQUITY LPDP

9 Duta Besar Hadiri Pertemuan Francophonie 2026, UNJ Fokus Perkuat Kerja Sama Internasional

Jakarta, Humas UNJ — Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menjadi tuan rumah kegiatan Diskusi Pakar bertajuk “Investasi Pembangunan Manusia untuk Indonesia Emas 2045: Memastikan Komitmen Kebijakan dan Pembiayaan Keluarga Berencana Berkelanjutan” pada Senin, 22 September 2025, di Ballroom UTC UNJ by Hotel Naraya. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Kontrasepsi Sedunia 2025 dan menegaskan pentingnya pembangunan manusia sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.

Diskusi ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN), UNFPA Indonesia, dan UNJ. Acara dihadiri oleh jajaran pimpinan Kemendukbangga/BKKBN dan termasuk Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka sebagai Wakil Menteri, pimpinan dan dosen UNJ, masyarakat umum, dan perwakilan media.

Hadir sebagai pembicara utama (keynote speaker), Dr. Wihaji selaku Menteri Kemendukbangga/BKKBN. Sementara untuk sesi diskusi menghadirkan sejumlah narasumber terkemuka, antara lain:

Prof. Terence H. Hull (Pakar Demografi, Australian National University);
Hassan Mohtashami (UNFPA Representative in Indonesia);
Prof. Budi Setiyono (Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN); dan
Prof. Hafid Abbas (Pakar Pendidikan dan Guru Besar UNJ).

Adapun penanggap dalam sesi diskusi meliputi:
Restuardy Daud (Dirjen Bina Pembangunan Daerah, Kemendagri);
Prof. Omas Bulan Samosir (Pakar Kependudukan, Universitas Indonesia);
Prof. Budi Utomo (Pakar Kesehatan Masyarakat); dan
Zahera Mega Utama (Tenaga Ahli Utama Deputi III Pemberdayaan Masyarakat, Kantor Staf Presiden).

Dalam sambutannya, Dr. Wihaji menyampaikan bahwa salah satu isu utama yang dibahas adalah pergeseran paradigma dalam kebijakan kependudukan. Jika sebelumnya fokus pada slogan “dua anak cukup” yang menekankan pembatasan jumlah anak, kini bergeser menjadi “dua anak lebih sehat” yang menitikberatkan pada kualitas hidup keluarga, kesehatan ibu dan anak, serta kesejahteraan secara menyeluruh.

Ia juga menyoroti fenomena bonus demografi yang tengah dialami Indonesia, yaitu kondisi ketika proporsi penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan usia nonproduktif. Menurutnya, peluang ini hanya dapat dimanfaatkan secara optimal jika didukung oleh perencanaan matang dan kebijakan yang tepat, termasuk investasi di bidang pendidikan, kesehatan, dan penciptaan lapangan kerja.

“Investasi dalam program Keluarga Berencana (KB) merupakan langkah strategis untuk efisiensi anggaran jangka panjang. Program KB yang kuat berkontribusi pada penurunan angka kematian ibu dan anak serta peningkatan kesejahteraan keluarga,” ujar Dr. Wihaji. Ia menutup sambutannya dengan ucapan, “Selamat Hari Kontrasepsi Sedunia.”

Sementara itu, Prof. Komarudin dalam sambutannya menyampaikan bahwa UNJ, sebagai tuan rumah diskusi pakar ini, menegaskan posisinya sebagai pusat keunggulan akademik di bidang pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup. Melalui Program Doktor Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) di Sekolah Pascasarjana, UNJ berkomitmen menghasilkan riset berbasis bukti untuk memperkuat kebijakan kependudukan dan program KB.

“Dengan dukungan riset mutakhir dan analisis kebijakan berbasis data, UNJ mampu menyediakan rekomendasi kebijakan, program pelatihan, serta model implementasi yang mendukung keberlanjutan pembiayaan dan efektivitas program KB,” ujar Prof. Komarudin.

Ia juga menambahkan bahwa sinergi akademik ini mendukung upaya nasional dalam menekan disparitas Total Fertility Rate (TFR), meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan memperkuat fondasi menuju bonus demografi yang optimal pada 2045.

“Dengan dukungan dari Wihaji sebagai menteri sekaligus alumni program doktor PKLH UNJ, serta seluruh pemangku kepentingan yang hadir, saya yakin UNJ tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga laboratorium kebijakan kependudukan yang relevan untuk menjawab tantangan Indonesia Emas 2045,” tutup Prof. Komarudin.