UNJ Dukung Implementasi Kebijakan Program “Sekolah Bersama Ayah” di Pandeglang, Banten

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Kembali Pertahankan Predikat “Badan Publik…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Jawab Tantangan “Mismatch” Dunia Kerja, UNJ Siapkan Ratusan Skema Sertifikasi Kompetensi Futuristik

FISH UNJ Gelar Employer Meeting untuk Perkuat Lulusan Adaptif dan Kompeten dalam Dunia Kerja

Batavia Team UNJ Raih Juara 5 Kategori Battery Electric di Shell Eco-Marathon Asia Pacific and the Middle East 2026

Comdev Program EQUITY UNJ Hadirkan Trauma Healing bagi Siswa di Daerah Rawan Bencana Cianjur

FT UNJ Gelar Employer Meeting 2026, Perkuat Kolaborasi Industri untuk Revitalisasi Kurikulum Berbasis OBE dan Kebutuhan Dunia Kerja

Jakarta, Humas UNJ — Universitas Negeri Jakarta (UNJ) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung implementasi kebijakan publik yang berorientasi pada penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak. Komitmen ini diwujudkan melalui keterlibatan aktif UNJ dalam penelitian nasional bertajuk “Peran Perguruan Tinggi Ilmu Kependidikan dalam Pelaksanaan Gerakan Ayah Teladan (GATI)” yang difokuskan pada program Sekolah Bersama Ayah (SEBAYA). Penelitian ini dipimpin oleh Prof. Muchlas Suseno yang merupakan Guru Besar UNJ. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Koranji, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang, Banten, sebagai bagian dari kerja sama antara UNJ dan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga).

Pemilihan Desa Koranji sebagai lokasi penelitian dilandasi oleh tingginya aktivitas serta keterlibatan pemangku kebijakan daerah dalam menyukseskan program GATI, yang sebelumnya telah diluncurkan oleh Menteri Kemendukbangga/Kepala BKKBN pada 21 April 2025 lalu. Dalam dua kali kunjungan yang dilakukan pada 25 Mei dan 12 Juli 2025, tim peneliti UNJ disambut langsung oleh Pj. Kepala Desa Koranji, Abdul Fatah, beserta perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat.

Dalam sambutannya, Abdul Fatah mengapresiasi pemilihan Desa Koranji sebagai lokasi riset, seraya menekankan bahwa partisipasi ayah dalam pengasuhan anak di wilayah tersebut umumnya ditunjukkan melalui keterlibatan praktis, seperti mengantar anak ke sekolah. Ia berharap program ini dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya peran ayah dalam perkembangan anak, baik secara emosional maupun kognitif.

Sementara itu, Prof. Muchlas Suseno menjelaskan bahwa penelitian ini bertujuan mengukur tingkat keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, serta mengidentifikasi hambatan-hambatan struktural maupun kultural yang mungkin menghambat optimalisasi peran tersebut. “Jika hasil penelitian tahap awal ini positif, maka kami akan merancang program intervensi lanjutan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Desa Koranji,” ujar Prof. Suseno.

Kegiatan penelitian meliputi pengisian kuesioner dan wawancara mendalam dengan para responden. Menurut Munawar Asikin, perwakilan Kemendukbangga sekaligus anggota tim peneliti, kuesioner yang digunakan terdiri dari 33 butir dalam 11 kategori, termasuk aspek interaksi ayah-anak, dukungan pendidikan, dan keterlibatan emosional. Para responden diminta menilai frekuensi keterlibatan mereka dalam berbagai aktivitas pengasuhan, mulai dari “hampir selalu” hingga “hampir tidak pernah”.

Dalam kunjungan kedua, tim peneliti juga menyambangi Sekolah Khusus (SKH) Yayasan Musthofa Binaan Umat yang melayani siswa-siswi tunarungu dari berbagai jenjang pendidikan. Ketua Yayasan, Neng Undayah, menyambut baik inisiatif penelitian ini dan menyatakan kesiapannya mendukung implementasi program GATI. Ia juga menyebutkan bahwa fasilitas SKH telah digunakan untuk aktivitas-aktivitas yang selaras dengan nilai-nilai pengasuhan positif yang diusung dalam program tersebut.

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan sumber daya manusia, khususnya generasi muda di wilayah perdesaan. “Desa Koranji menjadi bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari keluarga, dan keluarga bisa dibangkitkan oleh kampus,” tegas Prof. Suseno. Ia menambahkan, pendidikan tinggi tidak sekadar menghasilkan gelar, tetapi menciptakan dampak—dan tak ada dampak yang lebih kuat dari mengubah cara seorang ayah mencintai dan membimbing anaknya.

Dukungan UNJ terhadap program “Sekolah Bersama Ayah menegaskan bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan kebijakan publik dapat mendorong transformasi sosial yang berkelanjutan dengan dimulai dari yang paling mendasar, yaitu keluarga.