
Jakarta, Humas UNJ – Hari ini suasana Auditorium Maftuchah Yusuf Universitas Negeri Jakarta (UNJ) terasa berbeda dari biasanya. Lampu ruangan diredupkan, videotron dinyalakan, dan ratusan kursi terisi oleh penonton dari berbagai kalangan. UNJ menjadi salah satu tuan rumah Arts Lumière Indonesia Festival (ALIF) “Muslim World Movie Screening”. Rangkaian pemutaran film ini berlangsung pada 20–21 September 2025 dan menjadi bagian dari festival yang dibuka sehari sebelumnya di XXI Jakarta Theater dengan tema besar “Stories of Peace”. Tema ini diangkat untuk menyampaikan pesan perdamaian, toleransi, dan persaudaraan lintas bangsa melalui karya sinema yang menginspirasi serta menggugah kesadaran penonton akan pentingnya hidup berdampingan secara harmonis.
Pembukaan sesi pemutaran film di UNJ dihadiri oleh pimpinan universitas, mahasiswa, dosen, dan perwakilan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI). Dalam sambutannya, Rijal Wirakara, Diplomat Madya Kemenlu RI, menegaskan bahwa ALIF merupakan wujud nyata diplomasi budaya Indonesia yang menggabungkan seni, perfilman, dan peran perguruan tinggi. “Kami berterima kasih kepada UNJ atas keterlibatannya sebagai tuan rumah. Melalui festival ini, UNJ berkontribusi aktif mempromosikan perdamaian dunia, membangun saling pengertian, dan memperkuat jejaring kerja sama dengan negara-negara OKI,” ujarnya.
Suasana di Auditorium Maftuchah Yusuf UNJ pada hari pertama pemutaran berlangsung hangat. Lebih dari 150 penonton yang terdiri dari mahasiswa UNJ, siswa SMA dan SMK, serta masyarakat umum tampak antusias mengikuti acara. Diskusi yang menyusul seusai pemutaran pun diwarnai pertanyaan-pertanyaan kritis, baik terkait aspek teknis perfilman maupun pesan moral yang terkandung di dalamnya. Para sineas yang hadir memberikan jawaban mendalam, bahkan menceritakan proses kreatif di balik pembuatan film yang sarat nilai kemanusiaan tersebut.
Film yang diputar pada hari pertama, The Banana Garden, menampilkan kisah sekelompok remaja yang menghadapi situasi masyarakat yang sedang terancam. Dengan alur cerita yang kuat, film ini menggambarkan bagaimana semangat cinta tanah air, keberanian untuk bertindak, dan solidaritas di antara anak muda menjadi kunci untuk menghadapi tekanan sosial dan menjaga harapan. Pesan yang disampaikan begitu relevan bagi generasi muda, mendorong mereka untuk tidak pasif menghadapi krisis, tetapi menjadi agen perubahan yang berani memperjuangkan masa depan bangsanya.
Di akhir pertunjukan, salah satu mahasiswa internasional, Alphas Otieno Odoyo dari Kenya, memberikan komentarnya. “Kisah yang ditampilkan dalam The Banana Garden sangat menyentuh. Saya melihat bagaimana para remaja dalam film berani mengambil tindakan ketika masyarakat mereka berada dalam bahaya. Film ini menginspirasi kami, generasi muda, untuk mencintai tanah air dan berani bertindak demi kebaikan bersama,” ujarnya. Komentar ini disambut dengan tepuk tangan hadirin dan memantik diskusi yang lebih mendalam tentang peran pemuda di tengah ancaman sosial.

Dalam wawancara singkat dengan Humas UNJ, Wakil Rektor UNJ Bidang Kerja Sama dan Bisnis, Andy Hadiyanto, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pemutaran film, melainkan ruang dialog budaya, refleksi, dan pembelajaran yang berharga. Ia menambahkan bahwa sudah saatnya UNJ dikenal lebih luas, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga global, sebagai kampus negeri yang terpandang dan berwawasan internasional. “UNJ bukan hanya pusat pendidikan, tetapi juga pusat pengembangan budaya, dialog, dan diplomasi. Melalui ALIF, kami berharap mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang melampaui ruang kelas dan terdorong menjadi warga dunia yang peka terhadap isu kemanusiaan,” ujarnya.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang tontonan, tetapi juga ruang pembelajaran yang mendorong mahasiswa berpikir kritis dan memiliki kepekaan sosial. Dengan menghadirkan film-film dari berbagai latar budaya dunia Muslim, UNJ berupaya memfasilitasi pengalaman lintas budaya yang akan memperkaya wawasan global mahasiswa dan memperluas perspektif mereka mengenai keberagaman.
Partisipasi UNJ dalam ALIF juga menjadi langkah strategis dalam memperkuat citra universitas di mata publik. Kolaborasi ini mencerminkan visi UNJ untuk menjadi pusat inovasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berorientasi pada isu-isu global. UNJ terus berupaya menghadirkan kegiatan serupa secara rutin agar semakin dikenal sebagai kampus yang aktif mempromosikan perdamaian dan dialog antarbudaya.
Festival akan berlanjut hingga Minggu, 21 September 2025, dengan pemutaran film terakhir dan diskusi penutup. Selain di UNJ, pemutaran film juga dilakukan di XXI Jakarta Theater, Gedung Kesenian Jakarta, dan Perum PFN, sehingga masyarakat luas memiliki kesempatan menikmati film-film yang sarat pesan kemanusiaan ini. Dengan tema besar “Stories of Peace,” ALIF 2025 diharapkan menjadi tonggak penting dalam mempererat jejaring antarbangsa dan memperkuat diplomasi budaya melalui media film.