UNJ Latih Majelis Taklim Pulau Pramuka Lantunkan Shalawat Dua Suara

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Peringatan Nuzulul Qur’an Jadi Momentum Soft…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Menaker Dorong Sinergi LPTK dan Industri untuk Perkuat Daya Saing Lulusan MIPA

FMIPA UNJ Jadi Tuan Rumah Rapat Tahunan AMLI 2026, Menaker RI Tekankan Pentingnya Lulusan Siap Kerja

Dosen FIP UNJ Dampingi Guru TK IGTKI Kota Bekasi Kembangkan Pembelajaran Literasi Digital Berbasis Deep Learning

UNJ Kembangkan Sistem IoT Deteksi Dini Banjir dan Perkuat Kader Digital di Nagari Pangian Sumbar

Dosen Fakultas Psikologi UNJ Edukasi Orang Tua tentang Pentingnya Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak

KEPULAUAN SERIBU, Humas UNJ — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta (P2M UNJ) menggelar pelatihan Shalawat Busyroh dan Yassir Lana dalam dua suara bagi anggota Majelis Taklim Durrotun Nasihin, Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pada 11–13 Mei 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari skema Pengabdian kepada Masyarakat Wilayah Binaan Unggulan Universitas (PPM-WBU).

Program dipimpin oleh Tuti Tarwiyah Adi, dosen Program Studi Pendidikan Seni Musik, Fakultas Bahasa dan Seni UNJ. Tim juga melibatkan Aulia Ayu Annisa, Jubaedah, serta mahasiswa UNJ, yaitu Hikmatur Rahmah, Rais Zaky Edra, Hana Naf’atun Sholihah, dan M. Daffa Isnan Effendi. Mitra kegiatan adalah Hj. Setiawati, pembina Majelis Taklim Durrotun Nasihin.

Pelatihan dirancang untuk meningkatkan kualitas penyajian shalawat melalui teknik vokal dasar, ketepatan pelafalan, intonasi, dan harmonisasi sederhana. Peserta terlebih dahulu berlatih dalam satu suara, kemudian dibagi menjadi suara utama dan suara pengiring agar menghasilkan perpaduan yang lebih menarik, rapi, dan harmonis tanpa mengurangi kekhidmatan ibadah.

Menurut Tuti, shalawat tidak terlepas dari kehidupan religius masyarakat Betawi. Pulau Pramuka merupakan bagian dari wilayah Kepulauan Seribu yang berada dalam ruang budaya Betawi, sementara penduduknya bersifat heterogen dan banyak berasal dari luar Jabodetabek. 

“Kegiatan ini juga menjadi sarana memperkenalkan shalawat sebagai salah satu unsur religius Betawi kepada masyarakat yang beragam, sekaligus menyajikannya dengan pendekatan musikal yang lebih menarik.” ungkap Tuti.

Tuti Tarwiyah Adi memperkenalkan lima unsur dasar musik yang menjadi landasan dalam menyanyikan shalawat, yaitu irama/birama, yakni pola panjang-pendek bunyi serta pengelompokan ketukan secara teratur, nada/melodi, yakni tinggi-rendah bunyi dan rangkaian nada yang membentuk lagu, harmoni/akord, yaitu perpaduan beberapa nada yang terdengar selaras, bentuk/struktur lagu, yaitu susunan bagian-bagian lagu, dan ekspresi, yakni penghayatan lagu melalui dinamika, tempo, dan warna suara.

Setelah itu, peserta diperkenalkan pada teknik vokal dasar yang meliputi sikap tubuh saat bernyanyi, pengelolaan pernapasan, intonasi, artikulasi/diksi, dan frasering. Dalam pembahasan artikulasi, Tuti mengaitkan kejelasan pengucapan dalam bernyanyi dengan pelafalan bahasa Arab, terutama ketepatan makhraj huruf, kejelasan lafaz, serta panjang-pendek bunyi agar makna syair tetap terjaga. Setelah memahami dasar-dasar tersebut, peserta mulai mempraktikkan Shalawat Busyroh sebagai lagu pertama, kemudian Yassir Lana, melalui metode demonstrasi, latihan terpandu, dan praktik bersama. Latihan dilakukan mula-mula dalam satu suara, lalu dikembangkan menjadi suara utama dan suara pengiring agar peserta memahami perbedaan penyajian satu suara dan dua suara.

Selain unsur musik dan teknik vokal, tim turut menjelaskan makna lirik dan terjemahannya. Shalawat Busyroh diperkenalkan sebagai doa yang memuat harapan akan kabar baik, kemudahan, dan kebaikan dari Allah bagi murid, guru, serta masyarakat. Sementara itu, Yassir Lana dikenalkan sebagai lantunan religi yang berisi permohonan agar diberikan kemudahan, termasuk bagi mereka yang sedang menuntut ilmu.

Pada hari kedua, tim melakukan pendampingan untuk memperbaiki kekompakan, ketepatan nada, dan keserasian antarsuara. Peserta juga diperkenalkan dengan lagu Labbaikallahumma Labbaik karena kegiatan berlangsung menjelang momentum ibadah haji. Bagi anggota yang berhalangan hadir, tim menyiapkan video pembelajaran agar materi dapat dipelajari kembali secara mandiri.

Hasil pelatihan ditampilkan dalam acara malam yang dihadiri unsur pemerintah setempat. Tim shalawat Majelis Taklim Durrotun Nasihin membawakan Shalawat Busyroh dan Yassir Lana dalam dua suara dengan penyajian yang lebih kompak dan harmonis. Penampilan tersebut mendapat sambutan hangat dari para hadirin.

Acara penutupan dihadiri Sekretaris Kelurahan Pulau Panggang, Adehan, serta Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat Kelurahan Pulau Panggang, Abdul Salam, yang mewakili lurah. Adehan mengapresiasi perkembangan peserta dan menyatakan keterampilan tersebut berpotensi ditampilkan dalam kegiatan masyarakat di tingkat kelurahan

“Ternyata shalawat juga bisa dinyanyikan dengan dua suara. Saya pikir selama ini hanya lagu-lagu yang bisa dibuat dua suara,” apresiasi dari Setiawati. 

Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan agar anggota majelis taklim memperoleh tambahan pengetahuan dalam bidang seni religius.

Tuti menambahkan bahwa harmonisasi dua suara bukan untuk mengubah fungsi shalawat sebagai ibadah, melainkan memperkaya cara penyajiannya. Selain meningkatkan keterampilan vokal, pelatihan ini diharapkan memperkuat kebersamaan, rasa percaya diri, serta pemahaman masyarakat terhadap seni religius dan kearifan lokal Betawi.

Melalui pendampingan dan media pembelajaran yang telah disiapkan, peserta diharapkan dapat terus berlatih dan menerapkan model shalawat dua suara dalam kegiatan rutin majelis taklim. Program ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi UNJ dalam penguatan pendidikan, budaya, dan kehidupan keagamaan masyarakat Pulau Pramuka.