UNJ Lestarikan Musik Tradisional melalui Kehadiran Kronje

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Refleksi Hardiknas Dalam Kilasan Pemikiran Tiga…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Dosen FT UNJ Latih UMKM Jatinegara Kaum Kembangkan Produk Singkong dan Pemasaran Digital

Dosen FT UNJ Latih Kader PKK Jatinegara Kaum Jadi Affiliate TikTok

Dua Mahasiswa UNJ Melaju ke Pilmapres Nasional 2026

Dosen UNJ Bekali Warga Kampung Melayu Keterampilan Jahit dan Pemasaran Digital

FEB UNJ Terima Benchmarking Pengembangan Magister Manajemen UAI

Jakarta, Humas UNJ – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) terus memperkuat komitmennya dalam melestarikan kekayaan budaya Indonesia melalui berbagai wadah pengembangan seni. Selain memiliki Batavia Chamber Orchestra (BCO), UNJ juga memiliki Keroncong UNJ atau dikenal Kronje yang merupakan kelompok musik keroncong yang menjadi ruang ekspresi sekaligus pembelajaran bagi sivitas akademika dalam mengembangkan dan mempromosikan musik tradisional Indonesia.

Kronje resmi berdiri pada tahun 2024 atas inisiasi dosen Program Studi Pendidikan Musik Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNJ, Dian Herdiati. Nama Kronje dipilih sebagai identitas kelompok musik keroncong kampus dengan karakter yang sederhana, mudah diingat, sekaligus mencerminkan semangat kebersamaan dalam melestarikan salah satu warisan musik nusantara.

Saat ini Kronje diperkuat oleh delapan personel yang terdiri atas tujuh pemain instrumen dan satu vokalis. Formasi tersebut memainkan instrumen khas musik keroncong, yakni kontrabas, cello, biola, gitar, cak, cuk, dan flute, yang dipadukan menjadi harmoni musik keroncong yang tetap mempertahankan karakter klasik sekaligus mampu tampil dinamis dalam berbagai kesempatan.

Dalam proses pembinaannya, Kronje didampingi oleh Dian Herdiati bersama Yosep Abdul Rahman yang secara aktif membimbing para personel dalam penguasaan teknik permainan, interpretasi musik, hingga penampilan di berbagai kegiatan resmi universitas.

Pembimbing Kronje, Dian Herdiati menjelaskan bahwa pembentukan kelompok musik ini merupakan bagian dari upaya UNJ dalam menjaga keberlangsungan musik keroncong sebagai identitas budaya bangsa sekaligus memberikan ruang bagi sivitas akademika untuk terus berkarya.

“Kronje kami hadirkan bukan hanya sebagai kelompok musik, tetapi juga sebagai media edukasi dan pelestarian budaya. Melalui musik keroncong, kami ingin menunjukkan bahwa warisan budaya Indonesia tetap relevan, dapat dinikmati lintas generasi, dan mampu berkembang mengikuti dinamika zaman tanpa kehilangan jati dirinya,” ujarnya.

Menurut Dian, keberadaan Kronje juga menjadi sarana pembelajaran yang menghubungkan teori dan praktik bagi mahasiswa, khususnya di bidang pendidikan musik, sehingga mereka memperoleh pengalaman langsung dalam mengembangkan seni pertunjukan berbasis budaya Indonesia.

Sementara itu, pembimbing Kronje lainnya, Yosep Abdul Rahman mengatakan bahwa kelompok musik ini terus berupaya menghadirkan penampilan berkualitas melalui proses latihan yang konsisten dan pengembangan aransemen yang tetap menghormati pakem musik keroncong.

“Kami berharap Kronje dapat menjadi duta budaya UNJ yang memperkenalkan keindahan musik keroncong kepada masyarakat luas. Keroncong memiliki nilai sejarah, estetika, dan karakter musikal yang sangat kaya. Melalui penampilan yang menarik dan berkualitas, kami ingin semakin banyak generasi muda mencintai musik keroncong,” katanya.

Selain menjadi bagian dari aktivitas seni di lingkungan kampus, Kronje juga disiapkan untuk mendukung berbagai kegiatan resmi universitas maupun kolaborasi budaya dengan berbagai institusi. Kehadiran kelompok musik ini diharapkan dapat memperkuat citra UNJ sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga berkomitmen melestarikan seni dan budaya Indonesia.

Kepala Kantor Tata Usaha, Layanan Umum, dan Rumah Tangga UNJ, Syarif Hidayatullah, menyampaikan bahwa Kronje terbuka untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang membutuhkan penampilan musik keroncong.

“Kronje merupakan salah satu aset budaya yang dimiliki UNJ. Kami menyambut baik berbagai pihak yang ingin menghadirkan musik keroncong dalam kegiatan akademik, pemerintahan, maupun acara budaya. Bagi instansi atau pihak yang membutuhkan penampilan Kronje, dapat menghubungi Saya untuk koordinasi lebih lanjut,” ujarnya.

Melalui kehadiran Kronje, UNJ kembali menegaskan komitmennya dalam mengembangkan ekosistem seni yang berkelanjutan. Tidak hanya menjadi ruang kreativitas bagi sivitas akademika, Kronje juga diharapkan menjadi duta pelestarian musik keroncong yang mampu memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat luas serta menginspirasi generasi muda untuk terus mencintai dan mengembangkan warisan budaya bangsa.