UNJ Perkuat Pendidikan Karakter Moral Melalui Bedah Film “Surgapun Ikut Menangis”

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Kantor Humas dan IP UNJ Raih…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Lanjutkan Periode Kedua, Guru Besar FIKK UNJ Prof. Hidayat Humaid Kembali Terpilih sebagai Ketua Umum KONI DKI Jakarta 2026–2030

Mahasiswa FIKK UNJ Sumbang 2 Emas dan 1 Perunggu di Track Asia Cup Chennai 2026

Tingkatkan Daya Saing Lulusan, LSPP1-UNJ Selenggarakan Uji Kompetensi Batch XI yang Diikuti 248 Mahasiswa

Perkuat Tata Kelola Manajemen Risiko, UNJ Kembangkan Aplikasi SIMRISK

BP3 UNJ Bersinergi dengan BPIP Selenggarakan Diklat Pembinaan Ideologi Pancasila bagi Dosen

Jakarta, Humas UNJ – Kantor Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta kembali menyelenggarakan nonton bareng sekaligus bedah film bertema “Surgapun Ikut Menangis” di Aula Maftuchah Yusuf, kampus UNJ, pada 17 Maret 2025.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Bisnis Andy Hadiyanto, Staf Ahli Bidang Kerja Sama Dalam Negeri Kantor Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Bisnis Rudi M. Barnansyah, mantan Ketua Lembaga Sensor Film periode 2020-2024 Rommy Fibri Hardiyanto, serta Abdul Fadhil, Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNJ.

Pada kesempatan itu, Andy Hadiyanto mengatakan bahwa kegiatan nonton bareng (nobar) diselenggarakan dalam rangka mengisi kegiatan di bulan Ramadan dengan tayangan bernuansa religi yang memiliki muatan edukasi. “Melalui film ini, kita dapat belajar bahwa berbakti kepada orang tua dan menjaga pergaulan adalah nilai-nilai yang harus dimiliki oleh anak muda saat ini,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa ke depan, kegiatan nobar ini akan terus diselenggarakan dengan menayangkan beberapa film dari genre yang berbeda dan memiliki muatan edukasi. Dirinya berharap melalui film-film tersebut, warga kampus UNJ dapat memetik pelajaran secara tidak langsung melalui representasi jalan cerita dari film.

“Tontonan seperti ini memungkinkan warga kampus untuk mengambil pembelajaran secara tidak langsung tentang realitas kehidupan, dan ini sangat berkaitan dengan kehidupan anak muda,” katanya.

Pada kesempatan itu, Abdul Fadhil dalam sesi diskusi bedah film turut menyampaikan bahwa garis cerita film seperti “Surgapun Ikut Menangis” adalah representasi gaya film tahun 90-an yang memuat kisah kesedihan. “Saya kira film ini secara pribadi sangat cocok bagi mereka yang ingin bernostalgia pada era 90-an, tetapi untuk konteks sekarang ini dapat menjadi hiburan bagi generasi Z,” katanya.

Ia juga menyoroti beberapa aspek cerita yang menjadi kritik terhadap film tersebut, terutama aspek cerita dan kontekstualisasi film serta narasi yang ingin disampaikan.

Rommy Fibri Hardiyanto mengatakan bahwa beberapa adegan dalam film tersebut memiliki kaitan dengan kisah hidup Umi Pipik dan Almarhum Ustad Jefri. “Muatan film ini menggambarkan seolah-olah film dakwah,” katanya.

Ia lebih menyoroti aspek kisah yang jahat dan baik. Menurutnya, kisah mengenai antagonis dan protagonis tidak harus selalu melekat pada simbol kebaikan, melainkan angel kebaikan dapat dinarasikan dalam berbagai hal.

Rommy menekankan bahwa penggarapan film harus mempertimbangkan ideologi produsen dan permintaan pasar sebagai penilaian penting dari tayangan film tersebut.