JAKARTA, Humas UNJ – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) bersama Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustikom) merancang ulang Sistem Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat. Pengembangan dilakukan dengan pendekatan berbasis pengalaman pengguna untuk membuat layanan digital lebih mudah, efektif, dan nyaman digunakan dosen serta tenaga kependidikan.

Rancangan ulang tersebut berangkat dari evaluasi terhadap sistem yang selama ini digunakan. Tim Pustikom melakukan wawancara dan observasi terhadap dosen, peneliti, dan staf administrasi LPPM untuk memetakan kendala yang muncul mulai dari pengajuan proposal, pelaksanaan kegiatan, hingga pelaporan.
Hasil evaluasi menunjukkan sejumlah persoalan, antara lain struktur menu yang cukup kompleks, alur kerja yang belum mudah dipahami, serta tampilan antarmuka yang membuat pengguna perlu mempelajari sistem terlebih dahulu sebelum menyelesaikan pekerjaan. Persoalan tersebut menjadi semakin terasa ketika periode pengajuan proposal menyebabkan jumlah pengguna meningkat secara bersamaan.
Kepala Pustikom UNJ, Pitoyo Yuliatmojo mengatakan perancangan ulang dilakukan dengan menempatkan kebutuhan pengguna sebagai dasar utama pengembangan sistem.
“Pengembangan sistem ini tidak hanya berorientasi pada penambahan fitur, tetapi bagaimana sistem dapat benar-benar membantu pengguna menyelesaikan pekerjaannya dengan lebih mudah, cepat, dan jelas. Karena itu, pengalaman pengguna menjadi salah satu pertimbangan utama dalam setiap tahapan perancangan,” ujar Pitoyo.
Berdasarkan hasil evaluasi, tim Pustikom kemudian menyusun kembali arsitektur informasi dan alur sistem. Proses pengembangan dimulai dari penyusunan wireframe hingga pembuatan prototipe interaktif menggunakan Figma.
Rancangan baru berfokus pada empat aspek utama, yakni penyederhanaan navigasi, penguatan fungsi dasbor sebagai pintu masuk menuju fitur utama, penyederhanaan alur pengajuan dan pelaporan, serta penerapan desain visual yang lebih konsisten dan mudah dipahami.
Sebelum diuji kepada pengguna, prototipe dievaluasi oleh tiga hingga lima pakar menggunakan 10 prinsip heuristik Nielsen. Evaluasi tersebut menemukan sejumlah persoalan, seperti ketidakkonsistenan label navigasi, umpan balik sistem yang belum optimal setelah pengguna melakukan tindakan, serta informasi mengenai status sistem yang belum selalu terlihat.
Temuan tersebut kemudian digunakan untuk menyempurnakan rancangan sebelum dilakukan pengujian kepada pengguna nyata.
Pengujian melibatkan 30 partisipan yang merupakan pengguna sistem. Tim menggunakan System Usability Scale (SUS) untuk mengukur persepsi pengguna, sekaligus mengukur kinerja melalui tingkat keberhasilan tugas, waktu penyelesaian, dan tingkat kesalahan.
Hasil pengujian menunjukkan peningkatan tingkat kemudahan penggunaan. Prototipe sistem baru memperoleh skor SUS sebesar 76,9, meningkat dari sistem lama yang memperoleh skor 62,3. Skor tersebut menempatkan prototipe baru dalam kategori baik dengan grade B.
Selain itu, pengujian reliabilitas instrumen menghasilkan nilai Cronbach’s alpha sebesar 0,89. Nilai tersebut menunjukkan konsistensi internal yang tinggi dari instrumen dalam mengukur pengalaman pengguna.
Hasil pengembangan kemudian ditempatkan pada Technology Readiness Level (TRL) 7, yang menunjukkan bahwa prototipe telah didemonstrasikan dan divalidasi dalam lingkungan operasional. Capaian tersebut menjadi dasar bagi pengembangan sistem informasi penelitian dan pengabdian yang lebih komprehensif di lingkungan UNJ.
Ketua LPPM UNJ, Prof. Iwan Sugihartono mengatakan pengembangan sistem tersebut diharapkan dapat memperkuat kualitas layanan administrasi penelitian dan pengabdian, terutama ketika terjadi peningkatan jumlah pengguna pada masa pengajuan proposal.
“Kami berharap sistem yang lebih sederhana dan mudah digunakan dapat mengurangi beban administratif dosen dan peneliti. Dengan demikian, mereka dapat lebih fokus pada substansi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, sementara proses administrasinya dapat berlangsung lebih efisien,” kata Prof. Iwan.
Menurut dia, transformasi layanan digital perlu diarahkan pada kebutuhan nyata pengguna. Sistem yang baik bukan semata-mata sistem dengan banyak fitur, melainkan sistem yang mampu memberikan informasi secara jelas dan membantu pengguna menyelesaikan pekerjaan secara efektif.
Pengembangan tersebut juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs), khususnya tujuan 4 tentang Pendidikan Berkualitas serta tujuan 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Penelitian dan pengembangan ini memperoleh dukungan pendanaan penuh dari LPPM UNJ. Melalui pengembangan berbasis pengalaman pengguna, UNJ terus mendorong transformasi layanan digital yang lebih adaptif untuk mendukung ekosistem penelitian dan pengabdian kepada masyarakat secara berkelanjutan.