
Jakarta, Humas UNJ – Dosen Fakultas Matematika dan IPA Universitas Negeri Jakarta (FMIPA UNJ), Mutia Delina, menghadiri undangan resmi dari Kedutaan Besar Ethiopia di Jakarta dalam peringatan 130 tahun Victory of Adwa pada 2 Maret 2026. Kegiatan Victory of Adwa merupakan momentum bersejarah yang merefleksikan semangat kedaulatan, solidaritas, dan perdamaian global.
Dalam forum internasional tersebut, Mutia Delina hadir sebagai panelis bersama Al Busyra Basnur serta Duta Besar Tanzania untuk Republik Indonesia, Macocha M. Tembele. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Direktur Afrika Kementerian Luar Negeri RI, Dewi Justisia Meidiwaty, bersama Duta Besar Ethiopia untuk RI, Fekadu Beyene Aleka, dan dimoderatori oleh Garsia Paramita dari Universitas Indonesia.
Pada panel pertama, Al Busyra Basnur memaparkan tema “Africa–Indonesia Cooperation for Peace and SDGs Goals”, menyoroti pentingnya kemitraan strategis berbasis nilai perdamaian dan pembangunan berkelanjutan. Panel kedua disampaikan oleh Macocha M. Tembele dengan topik “Cultural Diplomacy and Creative Industries as Tools for Global Peace & SDGs: The Case of Africa–Indonesia Relation”, yang menegaskan peran diplomasi budaya dan industri kreatif sebagai instrumen penguatan hubungan antarbangsa.
Sementara itu, Mutia Delina membawakan materi bertajuk “Africa–Indonesia Academic and Research Cooperation for Global Peace and Sustainable Development”. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa kerja sama Indonesia–Afrika harus bergerak melampaui seremonial dan simbolik menuju kolaborasi yang terstruktur, berkelanjutan, dan berdampak nyata.
“Kerja sama Indonesia–Afrika tidak cukup hanya berbentuk kunjungan seremonial. Kita membutuhkan desain kolaborasi jangka panjang yang terstruktur, didukung regulasi, pendanaan, serta roadmap yang jelas agar dampaknya benar-benar dirasakan oleh kedua kawasan,” ujar Mutia yang juga dosen Prodi Fisika FMIPA UNJ.
Ia juga mengusulkan pembentukan Forum Indonesia–Afrika yang secara khusus mempertemukan unsur pemerintah dan perguruan tinggi guna menyelaraskan kebijakan, regulasi, serta skema pendanaan kerja sama akademik dan riset. Menurutnya, universitas perlu memasukkan kolaborasi Indonesia–Afrika dalam peta jalan strategis institusi, dilengkapi dokumen formal, timeline implementasi, serta sistem monitoring dan evaluasi yang terukur.
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan industri, para diplomat dari berbagai negara Afrika, akademisi lintas universitas, perwakilan Kementerian Luar Negeri RI, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut mencerminkan komitmen kolektif dalam memperkuat kemitraan Indonesia–Afrika, khususnya di bidang pendidikan, riset, dan inovasi.
Sebagai penutup, Mutia Delina berharap sinergi yang terbangun tidak hanya mempererat hubungan diplomatik, tetapi juga menghadirkan kontribusi konkret bagi penyelesaian tantangan global seperti ketahanan pangan, energi, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan. Melalui diplomasi akademik yang visioner dan kolaboratif, Indonesia dan Afrika berpeluang menjadi mitra strategis dalam mewujudkan perdamaian dan kemajuan bersama.