Jakarta, Humas UNJ – Semangat Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dalam mewujudkan visi sebagai “Kampus Berdampak” bukanlah isapan jempol belaka. Hal ini tergambar jelas dari deretan apresiasi dan testimoni yang disampaikan oleh para mitra strategis dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Diseminasi Pengabdian kepada Masyarakat yang diselenggarakan oleh UNJ pada Kamis, 23 April 2026 di Aula Bung Hatta, Kampus A UNJ.

Hadir mewakili wilayah binaan masing-masing, para mitra secara langsung menceritakan rekam jejak dan dampak positif kehadiran sivitas akademika UNJ di tengah masyarakat.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Depok, Dadang Wihana, membuka sambutannya dengan mengutip semboyan R.A. Kartini, “Habis gelap terbitlah terang”. Ia mengaku takjub dengan transformasi pesat UNJ saat ini.
“Saya baru tahu ternyata UNJ sekarang memiliki program studi non-kependidikan yang lumayan banyak. Ini benar-benar di luar ekspektasi kami. Selama ini, ada stigma bahwa perguruan tinggi hanya berkutat pada kepentingan akademik semata. Untuk mematahkan itu, kolaborasi adalah kuncinya,” ungkap Dadang Wihana.
Melihat potensi besar dari fakultas-fakultas seperti Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), hingga Fakultas Teknik yang memiliki Prodi Vokasi, Dadang mendorong UNJ untuk terus memperluas cakupan Sustainable Development Goals (SDGs). Ia menyarankan agar UNJ juga merambah isu-isu strategis seperti kesetaraan gender, kajian kependudukan, hingga pemanfaatan bonus demografi yang saat ini masih menjadi pekerjaan rumah di banyak daerah.
“Kami mengundang UNJ untuk hadir ke Kota Depok. Kami sangat terbuka menjadikan Depok sebagai laboratorium hidup (living lab) bagi riset dan pengabdian UNJ,” tawarnya antusias.
Apresiasi senada juga datang dari Purna Bakti Kepala Unit Pengelola Rumah Susun (UPRS) VII, Ageng Darmintono. Ia menilai istilah “Berdampak” yang diusung UNJ sangat tepat sasaran karena hasilnya benar-benar dirasakan langsung oleh warga masyarakat berpenghasilan rendah.
“Ada tiga prinsip yang saya lihat dari UNJ: Berdata, Berdaya, dan Berdampak. Ketiga hal ini sudah secara nyata dilakukan UNJ di rusun kami, khususnya di Rusunawa Jatinegara Kaum,” tutur Ageng.
Ageng menekankan bahwa literasi yang diberikan UNJ tidak sekadar menambah wawasan, tetapi juga mengangkat harkat, martabat (dignity), serta menggerakkan roda ekonomi warga. “Hanya dengan pendidikan kita bisa melawan kemiskinan ekstrem. UNJ telah memberikan literasi dan martabat bagi warga DKI Jakarta,” tegasnya.
Melihat keberhasilan tersebut, Ageng berharap program pengabdian UNJ tidak berhenti sampai di sini dan dapat direplikasi ke berbagai rusunawa lain di penjuru DKI Jakarta. Bahkan, sebagai masyarakat yang berdomisili di Bekasi, ia secara khusus mengajak UNJ untuk melebarkan sayap pengabdiannya ke kawasan Jatiasih.
“Saya juga ingin mengajak UNJ hadir di Jatiasih, Bekasi, untuk merintis kegiatan berdampak lainnya, seperti pembentukan Sekolah Lansia,” pungkasnya.

Rangkaian apresiasi dan undangan kolaborasi dari berbagai mitra ini menjadi bukti nyata bahwa kiprah Universitas Negeri Jakarta sebagai kampus berdampak tidak hanya dirasakan di lingkungan internal, tetapi juga memberikan kontribusi langsung bagi masyarakat luas. Kepercayaan yang terus mengalir dari berbagai daerah menegaskan posisi UNJ sebagai mitra strategis dalam pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan pengabdian.