Jakarta, Humas UNJ – Keteguhan hati dan perjuangan Panjang yang ditempuh Aulawia Hidayati telah menghasilkan predikat menjadi wisudawan terbaik program sarjana dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) dengan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94.
Aulia Hidayati maju bersama wisudawan terbaik lainnya dengan senyum sumringan, melangkah maju dan menerima kalung penghargaan dari Rektor Universitas Negeri Jakarta, Prof. Komarudin saat gelaran Wisuda UNJ Tahun Akademik 2025/2026 pada Rabu, 15 April 2026 di GOR UNJ.
Bagi Aulawia, keberhasilan ini bukan sekadar hasil akademik, melainkan buah dari proses panjang yang penuh perjuangan, doa, dan dukungan orang-orang terdekat. “Semua ini adalah hasil dari jerih payah yang saya jalani selama kuliah. Banyak kesan yang tertinggal, terutama bagaimana dosen-dosen di Prodi PAI membentuk kemampuan berpikir dan kerja sama kami dengan cara yang unik dan menarik,” ungkapnya.
Perjalanan Aulawia memilih Program Studi PAI tidak lepas dari peran besar keluarga, khususnya sang ibu. Latar belakang sebagai santri di pondok pesantren di Riau semakin menguatkan pilihannya untuk mendalami pendidikan agama Islam.
“Menjadi wisudawan terbaik adalah anugerah yang tidak pernah saya bayangkan. Saat nama saya disebut, rasanya haru dan bahagia bercampur menjadi satu,” tuturnya.
Motivasi terbesar dalam studinya bukan semata mengejar nilai tinggi, melainkan menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh. Ia meyakini bahwa proses yang dijalani dengan baik akan menghasilkan capaian terbaik.
Selama menempuh pendidikan, Aulawia aktif dalam berbagai organisasi, baik di dalam maupun luar kampus. Ia pernah mengemban beberapa peran sekaligus di organisasi kampus seperti BEM dan komunitas mahasiswa, serta organisasi eksternal.
Salah satu tantangan terberat yang ia hadapi adalah ketika harus menjalani berbagai tanggung jawab organisasi bersamaan dengan kegiatan akademik penting seperti kuliah kerja lapangan dan seminar proposal.
“Awalnya cukup kewalahan, tapi saya belajar untuk menjaga kestabilan diri, mengatur jadwal, dan tidak terlalu memikirkan hal di luar kendali,” jelasnya.
Tidak hanya unggul secara akademik, Aulawia juga aktif berprestasi di tingkat internasional. Ia pernah menjadi delegasi UNJ dalam kegiatan Global Wellness Leadership Week di Malaysia, serta meraih juara terbaik pertama dalam ajang International Youth Excursion Network (IYEN) di Kuala Lumpur.
Prestasi tersebut turut menginspirasi penelitian skripsinya yang berfokus pada pengembangan game moral berbasis website. Inovasi ini bertujuan menanamkan nilai moral dan keagamaan kepada generasi muda melalui pendekatan teknologi yang relevan dengan perkembangan zaman.
“Saya ingin nilai-nilai agama tetap bisa tersampaikan dengan cara yang sesuai dengan dunia digital saat ini,” ujarnya.
Di balik prestasinya, tersimpan kisah perjuangan yang tidak banyak diketahui. Sejak SMP, Aulawia mengalami gangguan irama jantung yang sempat menjadi kekhawatiran keluarga.
Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk melanjutkan pendidikan. Bahkan, ia menjalani operasi ablasi jantung pada Oktober 2024 di RSUP Harapan Kita, Jakarta, dan kini kondisinya telah membaik.
“Kalau kata mama, kuliah ini adalah obat yang Tuhan berikan untuk saya,” katanya haru.
Keberhasilan Aulawia tidak terlepas dari dukungan keluarga besar, termasuk paman yang membiayai pendidikannya. Ia menjadikan sosok pamannya sebagai inspirasi untuk dapat membantu orang lain melalui pendidikan di masa depan.
“Saya ingin bisa seperti beliau, yang mampu membantu banyak orang untuk mengenyam pendidikan,” ujarnya.
Aulawia berpesan kepada mahasiswa agar berani mencoba berbagai hal untuk mengenali potensi diri, tidak takut gagal, serta menjaga hubungan baik dengan keluarga dan Tuhan.
“Belajar itu bukan beban, tapi proses untuk mengenal diri dan berkembang,” pesannya.
Ke depan, Aulawia berencana mengabdikan diri sebagai pendidik di pondok pesantren sambil mempersiapkan studi lanjut. Ia berharap ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Kisah Aulawia menjadi bukti bahwa keterbatasan dan ujian hidup bukanlah penghalang untuk meraih prestasi. Dengan tekad, doa, dan dukungan yang kuat, setiap tantangan dapat dilalui hingga menghasilkan pencapaian yang membanggakan.