Jakarta, Humas UNJ – Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menghadirkan layanan inklusif bagi peserta disabilitas fisik. Salah satu peserta yang mengikuti UTBK pada 24 April 2026, Nuzulia Prinatalie dari SMAN 12 Kota Tangerang Selatan, mengaku merasa nyaman dan terbantu selama mengikuti ujian berkat pendampingan relawan disabilitas UNJ.
Nuzulia menuturkan, meskipun soal-soal UTBK terasa cukup sulit dan menantang karena harus berpacu dengan waktu, dirinya tetap optimistis menjalani ujian. Sebelumnya ia pernah mengikuti jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), namun belum berhasil lolos.
“Materinya sebenarnya bisa dipahami, tetapi rasanya seperti berkejaran dengan waktu dan membuat deg-degan,” ujarnya.
Dirinya mengungkapkan, persiapan menghadapi UTBK dilakukan dengan belajar secara mandiri melalui internet serta terus berdoa agar diberikan kelancaran dalam meraih cita-cita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Pada UTBK kali ini, Nuzulia memilih Program Studi Psikologi dan Ilmu Komunikasi di UNJ. Menurutnya, kedua program studi tersebut sesuai dengan minat dan kegemarannya dalam berkomunikasi. Selain mengikuti ujian, momen ini juga dimanfaatkannya untuk mengenal lingkungan kampus UNJ secara langsung.
“Jadi sekaligus tes sambil lihat-lihat lokasi kampus UNJ karena aku kebetulan memilih UNJ juga,” katanya.
Di balik semangatnya mengikuti UTBK, Nuzulia menyebut kedua orang tuanya menjadi sosok yang paling berperan dalam memberikan dukungan. Bahkan, sang ayah dan ibu rela mengambil cuti kerja demi mengantarkannya mengikuti ujian.
“Mamah dan papah sampai cuti kerja untuk mengantarkan aku, dan itu sangat berkesan banget,” ungkapnya.
Nuzulia pun berpesan kepada peserta lain agar tetap semangat dalam kondisi apa pun. Menurutnya, setiap orang memang tidak bisa memilih keadaan hidup, namun selalu bisa memilih untuk tetap optimis dan berjuang.
Sementara itu, Relawan Disabilitas UNJ, Hilmy Athifa dari Program Studi Pendidikan Khusus Fakultas Ilmu Pendidikan, menjelaskan bahwa tugas relawan adalah mendampingi peserta disabilitas sesuai kebutuhan masing-masing.
“Misalnya ada peserta tunanetra, maka kami membacakan soal-soalnya, memberikan arahan, dan terus menemani hingga selesai UTBK,” jelasnya.
Hilmy menambahkan, pengalaman menjadi relawan memberikan pembelajaran langsung mengenai pentingnya pelayanan inklusif bagi penyandang disabilitas. Menurutnya, tugas relawan tidak hanya saat pelaksanaan UTBK, tetapi juga dapat berlanjut selama mahasiswa disabilitas menempuh pendidikan hingga lulus kuliah.
Dirinya berharap masyarakat semakin menerima penyandang disabilitas dan bersama-sama menciptakan ruang hidup yang lebih inklusif.
“Tidak hanya relawan disabilitas saja yang bisa melakukan pendampingan, tetapi semua orang dan siapa pun bisa terlibat dan peduli,” ujarnya.
Ayahanda Nuzulia, Hotman Purba, turut mengapresiasi pelayanan yang diberikan UNJ selama pelaksanaan UTBK. Menurutnya, sejak awal kedatangan, keluarga langsung disambut relawan yang sigap membantu, bahkan tim dokter juga turut memberikan perhatian.
“Tadi pertama kami masuk ada relawan yang langsung membantu dan juga tim dokter yang menyambangi, jadi cukup bagus. Mereka juga mengajak ngobrol kami selaku orang tua, jadi pendampingannya baik sekali,” katanya.
Ia berharap putrinya dapat terus melanjutkan pendidikan tinggi. Menurutnya, pendidikan merupakan jalan penting untuk membuka peluang masa depan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sebagai salah satu pusat pelaksanaan UTBK, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menegaskan komitmennya untuk memberikan layanan yang optimal bagi seluruh peserta tanpa terkecuali. UNJ terus berupaya menghadirkan fasilitas yang ramah dan aksesibel, termasuk bagi peserta penyandang disabilitas, melalui penyediaan sarana pendukung, pendampingan, serta lingkungan ujian yang inklusif.