Jakarta, Humas UNJ — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum strategis untuk merefleksikan arah pembangunan pendidikan di tengah dinamika global yang kian kompleks. Andy Hadiyanto selaku dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ) yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor UNJ Bidang Kerjasama dan Bisnis, menekankan pentingnya penguatan kolaborasi lintas sektor dan internasionalisasi pendidikan tinggi.
Menurut Andy, tantangan pendidikan saat ini tidak lagi bersifat lokal, melainkan telah terhubung dalam jejaring global yang menuntut respons cepat dan inovatif dari perguruan tinggi. “Hardiknas harus dimaknai sebagai titik refleksi sekaligus akselerasi. Kita tidak bisa lagi berjalan sendiri, pendidikan membutuhkan kolaborasi strategis dengan berbagai pihak, baik dalam negeri maupun internasional,” ujarnya, Jumat (1/5).
Ia menilai bahwa perguruan tinggi memiliki peran kunci dalam menjembatani kebutuhan dunia kerja dengan kompetensi lulusan. Dalam konteks tersebut, kemitraan dengan industri, pemerintah, dan institusi global menjadi krusial untuk memastikan relevansi kurikulum dan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, model pendidikan yang terintegrasi dengan praktik dunia nyata akan memperkuat daya saing lulusan di tingkat global.
Lebih lanjut, Andy menyoroti pentingnya penguatan ekosistem bisnis di lingkungan perguruan tinggi sebagai bagian dari transformasi kelembagaan. Perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga sebagai motor penggerak inovasi dan kewirausahaan. “Unit bisnis perguruan tinggi harus dikembangkan secara profesional agar mampu mendukung kemandirian institusi sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa internasionalisasi pendidikan bukan sekadar mobilitas mahasiswa atau dosen, tetapi mencakup pertukaran pengetahuan, riset kolaboratif, hingga pengembangan program bersama dengan universitas luar negeri. Hal ini dinilai penting untuk meningkatkan reputasi institusi sekaligus memperluas wawasan global civitas akademika.
Dalam perspektif sosial, Andy mengingatkan bahwa transformasi pendidikan harus tetap berakar pada nilai-nilai keadilan dan inklusivitas. Akses terhadap pendidikan yang berkualitas perlu diperluas agar tidak terjadi kesenjangan yang semakin tajam di tengah perubahan global. “Kolaborasi yang kuat harus berjalan beriringan dengan komitmen terhadap pemerataan pendidikan,” tegasnya.
Menutup pandangannya, Andy berharap Hardiknas 2026 menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat global. Ia menekankan bahwa masa depan pendidikan Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan beradaptasi dan membangun jejaring kolaboratif yang luas.
“Pendidikan yang relevan adalah pendidikan yang mampu menjawab tantangan dunia, sekaligus tetap berpijak pada kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.