Jakarta, Humas UNJ — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum reflektif bagi berbagai kalangan untuk menilai arah dan kualitas pendidikan di Indonesia. Prof. Ari Saptono selaku Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta (FEB UNJ) yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Sumber Daya, menekankan pentingnya transformasi pendidikan yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini tidak lagi bersifat konvensional, melainkan semakin kompleks seiring dengan perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang berlangsung cepat. “Hardiknas tidak cukup dimaknai sebagai seremoni tahunan, tetapi harus menjadi ruang refleksi kritis terhadap sejauh mana sistem pendidikan mampu menjawab kebutuhan zaman,” ujar Prof. Ari dalam keterangannya, Jumat (1/5).
Ia menyoroti bahwa dunia pendidikan harus mampu merespons dinamika global, termasuk disrupsi teknologi digital dan tuntutan pasar kerja yang semakin kompetitif. Oleh karena itu, perguruan tinggi dituntut untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan adaptif, kreativitas, literasi digital yang kuat, serta berintegritas.
Lebih lanjut, Prof. Ari menegaskan pentingnya penguatan tata kelola pendidikan, khususnya dalam aspek pembiayaan dan pengelolaan sumber daya. Dalam konteks perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH), transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci untuk memastikan keberlanjutan institusi. “Pengelolaan keuangan yang baik bukan sekadar soal efisiensi, tetapi juga bagaimana menciptakan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan, jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor industri dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang relevan. Sinergi ini dinilai mampu mempercepat inovasi serta meningkatkan daya saing lulusan di tingkat nasional maupun global.
Dalam perspektif yang lebih luas, Prof. Ari mengingatkan bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam mengurangi ketimpangan sosial. Akses terhadap pendidikan yang berkualitas harus menjadi prioritas, terutama bagi kelompok masyarakat rentan. “Pendidikan adalah instrumen mobilitas sosial. Jika dikelola dengan baik, ia mampu menjadi jembatan untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan,” tegasnya.
Prof. Ari berharap Hardiknas 2026 dapat menjadi titik tolak bagi pembaruan kebijakan pendidikan yang lebih progresif dan berorientasi masa depan. Ia menekankan bahwa investasi di bidang pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang menentukan arah pembangunan bangsa.
“Pendidikan bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang masa depan Indonesia,” pungkasnya.