Feature — Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026
Kantor Humas dan Informasi Publik — Universitas Negeri Jakarta
Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini berhenti sejenak untuk mengenang. Mengenang bahwa pendidikan bukan hadiah yang datang begitu saja, ia adalah perjuangan panjang yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara merumuskan perjuangan itu dalam tiga kalimat yang melegenda hingga kini: Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani. Pemimpin yang berjalan di depan memberi teladan, yang berada di tengah membangun semangat, dan yang mengikuti dari belakang senantiasa memberi dorongan. Bukan sekadar filosofi pengajaran di ruang kelas melainkan cetak biru kepemimpinan yang memanusiakan.
Setengah abad kemudian, dari belahan bumi lain, Nelson Mandela berbicara dengan bahasa yang berbeda namun dengan keyakinan yang sama:
“Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia.”
Dua kalimat dari dua tokoh berbeda zaman, berbeda benua. Tapi keduanya menunjuk ke arah yang sama bahwa perubahan sejati sebuah bangsa tidak dimulai dari gedung-gedung megah atau kursi kekuasaan yang tinggi. Ia dimulai dari ruang belajar yang cukup. Dari guru yang berdiri di depan anak-anak yang lapar ilmu. Dari pemimpin yang rela turun, mendorong, dan menemani.

Di ujung timur Indonesia, di sebuah kabupaten yang dikenal sebagai Kota Sejuta Rawa, ada seorang Bupati yang tampaknya telah membaca kedua warisan itu dan memutuskan untuk tidak hanya mengutipnya, melainkan menghidupkannya. Namanya Kristosimus Yohanes Agawemu. Dan program yang ia lahirkan ”Seribu Sarjana”, Seribu Sarjana Bak senjata Mandela yang sedang digenggam dengan filosofi Ki Hajar Dewantara dipimpin dari depan dengan keberanian melepas kursi DPR RI, dibangun dari tengah dengan program yang menyentuh akar, dan didorong dari belakang dengan kaki yang tak pernah berhenti melangkah dari kampung ke kampung.
Rawa Mappi, ketinting atau Perahu itu bergerak pelan membelah sungai.
Di tepian, ibu-ibu berdiri. Sebagian mendorong lambung perahu dengan tangan mereka sendiri, seolah ingin memastikan ia benar-benar berangkat. Mereka melambaikan tangan. Mereka berteriak. Dan di antara semua yang mereka teriakkan, ada satu kalimat yang terus terulang dari kampung ke kampung yang ia singgahi, dari sungai ke sungai, dari mulut satu ke mulut yang lain, dengan nada yang sama, setengah harapan, setengah permohonan, berharap tuhan aminkan.
“Anak kami akan antar kamu jadi anggota DPR RI. Tapi kamu harus kembali urus adik-adik. Karena tidak ada orang yang bisa urus adik-adik.” Ucap ibu-ibu yang setiap kali Kristosimus sambangi
Orang yang ada di dalam perahu itu mendengarnya. Ia selalu mendengarnya, di setiap kunjungan, di setiap kampung, di setiap tikungan sungai yang ia lewati. Kalimat itu tidak pernah persis sama kata per katanya. Tapi maknanya selalu tunggal, selalu menghunjam di tempat yang sama.
Ia tidak melupakan kalimat itu. Bahkan ketika namanya sudah masuk daftar anggota DPR RI terpilih serta ketika kursi Senayan sudah tinggal menunggu pelantikan. Kalimat itu masih bergema. Dan akhirnya, ia memilih untuk pulang.
Bukan karena kalah. Bukan karena menyerah. Tapi karena ia tahu, ada utang yang lebih besar dari kursi mana pun yang bisa ia duduki. Ia adalah Bupati Kabupaten Mappi, Provinsi Papua Selatan. Dan utang itu bernama pendidikan.

Kristosimus Yohanes Agawemu bukan orang yang terlahir dengan jalan yang mulus. Lahir dan tumbuh di Papua, ia meniti hidup dari Sekolah Pelayaran, bekerja di dunia kemaritiman, lalu masuk ke birokrasi sebagai PNS di Pemda Mappi selama hampir sembilan tahun sebelum akhirnya memilih terjun ke dunia politik. Tidak langsung berhasil, ia pernah gagal di pilkada pertamanya. Namun ia bangkit, menjadi Ketua DPRD, lalu terpilih sebagai Bupati Mappi. Ketika kemudian ia berhasil memenangkan kursi DPR RI, banyak yang mengira perjalanannya ke Jakarta akhirnya dimulai.
Tapi suara ibu-ibu di tepian sungai itu terlalu keras untuk diabaikan. Ia mundur dari pelantikan. Maju lagi di Pilkada. Dan kembali dipercaya rakyatnya untuk memimpin.
“Cara Tuhan mengajari kita untuk memahami berbagai macam pengetahuan itu luar biasa. Termasuk ketika ide Seribu Sarjana ini muncul, ia langsung terurai. Dan uraian itu saya terjemahkan dalam ucapan, dalam kebijakan, dalam program.”
Inilah ing ngarso sung tulodo dalam wujud nyata, pemimpin yang memberi teladan bukan dengan pidato, melainkan dengan pengorbanan.
Sebelum Program Seribu Sarjana lahir, ada bertahun-tahun keprihatinan yang mengendap diam-diam. Dari kampung ke kampung, ia menyaksikan orang tua yang hidupnya sepenuhnya bergantung pada alam, pangkur sagu, memancing, berburu. Dalam kondisi seperti itu, berpikir soal biaya kuliah hampir tidak terpikirkan sama sekali. Ada kampung-kampung yang sejak negeri ini berdiri belum pernah melahirkan seorang sarjana. Bahkan ada anak-anak yang tumbuh besar tanpa pernah mengenyam bangku sekolah hingga nanti terancam buta aksara.

“Berarti mereka akan menjadi kelompok orang yang terancam buta aksara,” ujarnya pelan. “Ini yang menjadi renungan panjang saya.”
Ia mengenang sebuah gambaran masa lampau yang selalu ia ceritakan kepada masyarakat di zaman misionaris Belanda, sekolah di Mappi berdinding gaba-gaba dari anyaman daun sagu, mejanya dari belahan batang nibung. Tidak ada fasilitas. Tidak ada kemewahan. Tapi setiap ruang kelas selalu penuh. “Suasana itu yang saya rindukan,” katanya. “Kondisi hari ini jauh lebih baik fasilitasnya tapi semangatnya yang harus kita bangkitkan kembali.”
Dari keprihatinan yang panjang itulah, Program Seribu Sarjana lahir. Bukan dari meja rapat. Bukan dari dokumen kebijakan. Ia lahir dari suara ibu-ibu di tepian sungai, dari wajah anak-anak di kampung pelosok, dari pertanyaan yang terus berputar setiap malam ”apa yang akan terjadi pada mereka, jika tidak ada yang mengurus mereka sekarang?”
Program seribu sarjana memiliki dua agenda besar, Bak seperti merpati yang terbang dengan kedua sayapnya hingga mencapai tujuan, seperti itulah program seribu sarjana dirancang dengan dua sayap besar. Sayap pertama: mengirimkan anak-anak muda Mappi ke perguruan tinggi di seluruh Indonesia bahkan hingga ke New Zealand dan India dengan pembiayaan seratus persen dari APBD Kabupaten. Murni kas daerah, tanpa CSR, tanpa sumber lain, walaupun efisiensi tetap program pendidikan yang bupati mappi prioritaskan. Tahun pertama, lebih dari seribu anak muda mendaftarkan diri dan diberangkatkan 1.300 pada batch pertama. Sebuah keberanian yang mengantarkan Kabupaten Mappi meraih penghargaan dari LEPRID.
Mereka kini tersebar di belasan kampus perguruan tinggi negeri dan swasta baik di dalam maupun luar negeri, mengambil prodi yang dipetakan sesuai kebutuhan Mappi 10 hingga 20 tahun ke depan: keguruan, kesehatan, hukum, teknik informatika, teknik sipil, energi terbarukan, pertanian, kehutanan, perikanan, akuntansi, statistik. “Satu guru mampu mencerdaskan 100 hingga 200 anak,” kata Bupati Mappi. “Satu guru harus segera kita selamatkan, untuk menyelamatkan generasi berikutnya.”

Sayap kedua adalah kerja jangka panjang yang lebih sunyi namun sama pentingnya membenahi fondasi pendidikan dari bawah. Pada 2 Mei tahun lalu, Bupati Mappi mendeklarasikan pembelajaran berbasis teknologi AI di seluruh sekolah sebuah langkah yang belum pernah dilakukan daerah 3T mana pun di Indonesia. Mapi AI Hub dibangun, guru-guru dilatih. Dan ia turun langsung dari kampung ke kampung, berbicara kepada orang tua dengan bahasa yang paling sederhana:
“Siapa yang bisa menanam pisang atau kelapa, hari ini tanam, besok berbuah?” tanyanya. Semua menjawab: tidak ada. “Begitu pula dengan pendidikan anak kalian.”
Tut wuri handayani mendorong dari belakang dengan penuh kesabaran. Itulah yang ia lakukan, dari satu tepian sungai ke tepian sungai yang lain.
Program seribu sarjana adalah program prioritas bupati mappi diperiode kedua yang ia pimpin, penuh mulia dan tulus, Bagi sebagian pemimpin daerah, membangun infrastruktur seperti gedung, jalan, dan jembatan adalah cara termudah membuktikan kinerja. Hasilnya langsung terlihat, mudah difoto, mudah diklaim. Tetapi Bupati Mappi memilih jalan lain, jalan yang hasilnya baru akan terasa bertahun-tahun kemudian, mungkin bahkan setelah masa jabatannya berakhir.
Ia tidak menyembunyikan ironi itu.
“Mungkin saya yang menanam, tapi Bupati lain yang memetik hasilnya,” ujarnya merespons pertanyaan para tim kantor humas unj. Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan tenang: “Kami harus merencanakan dengan tulus, dengan ikhlas. Kemurnian hati untuk hadir dalam unsur-unsur kemanusiaan itu sesuatu yang sangat penting. Kita tidak bisa memadukan dia dengan kepentingan-kepentingan lain.”
Itulah filosofi yang menggerakkan seluruh Program Seribu Sarjana, bukan kalkulasi politik, melainkan sebuah utang yang ia rasa wajib dibayarkan kepada masyarakat yang telah mempercayainya, kepada ibu dan anak yang mendorong perahu di tepian sungai, kepada orang tua yang tidak punya uang tapi punya harapan tak terbatas untuk anak-anaknya.

Pada batch pertama, sebanak seratus perempuan muda Mappi dititipkan khusus ke Universitas Negeri Jakarta. Ini adalah pembayaran atas sebuah utang yang terlalu lama tertunda.
Di zaman misionaris Belanda, perempuan-perempuan Mappi pernah menjadi perawat dan guru. Lalu, entah kapan tepatnya, benang itu putus. Perempuan terdidik dari Mappi semakin langka. Di organisasi kepemudaan, dunia usaha, panggung politik perempuan Mappi nyaris tak terlihat. “Kalau kita tidak antar mereka sekarang, maka kami akan kehilangan momen,” kata Bupati Mappi.
UNJ dipilih bukan semata karena reputasinya sebagai kampus kependidikan terbaik yang kini menempati peringkat 601–800 dalam pemeringkatan THE WUR 2025 by subject Education tapi juga karena kepercayaan yang terbangun dari komunikasi tulus dan panjang antara Pemda Mappi dengan pihak UNJ. Kepercayaan itu dipupuk oleh kehadiran seorang dosen FISH UNJ, Bu Lala, yang Bupati Mappi gambarkan dengan penuh rasa syukur sebagai “orang Sunda berjiwa Papua” yang memahami karakter, dialek, dan cara berkomunikasi anak-anak Mappi, yang hadir bukan hanya sebagai koordinator administratif, tapi sebagai pendamping yang benar-benar peduli. “Kami melihat UNJ punya pengalaman yang baik dalam mengelola anak-anak ini,” katanya.

Salah satu dari seratus perempuan yang dititipkan ke UNJ pada batch pertama Program Seribu Sarjana adalah Hermina Simagai mahasiswi Prodi Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer yang kini memasuki semester dua.
Hermina lahir dan besar di Mappi dalam keluarga petani yang hidupnya bergantung pada berkebun dan menjaring ikan. Setelah lulus SMK, ia sempat mencoba peruntungan di seleksi tentara namun gagal. Satu tahun ia menunggu dalam ketidakpastian. Sampai kabar tentang Program Seribu Sarjana tiba. Ia bergerak cepat menyeberang ke kabupaten, mendaftar, dan menjalani tiga tahap seleksi. Dari ratusan pendaftar memilih UNJ, namanya masuk dalam seratus yang terpilih.
“Dalam keluarga saya, yang bisa keluar Papua saya doang,” ujarnya pelan. “Jadi saya bersyukur.”
Rasa syukur itu bukan sekadar kata. Ia adalah perasaan yang tumbuh setiap hari di sini. di kampus yang ternyata jauh lebih hangat dari yang pernah ia bayangkan. Dosen-dosen yang mengajar dengan sabar. Pak Ficky, ketua program studinya, yang menjelaskan materi pelan-pelan sampai betul-betul dipahami. Ibu Neng Ayu, dosen muda yang tidak pernah membuat mahasiswanya merasa malu ketika tidak mengerti. “Cara ngomongnya enak. Kalau kita nggak ngerti, dia jelasin lagi pelan-pelan sampai kita ngerti,” kata Hermina dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan.

Di tengah adaptasi yang tidak ringan logat yang berbeda, udara yang lebih gerah, sistem kuliah yang menuntut kemandirian Hermina menemukan rumah kecilnya di organisasi mahasiswa. Di sanalah ia belajar satu kalimat yang mengubah segalanya: “Apa-apa yang kamu ngomong, salah atau benar, ngomong aja. Nanti diperbaiki dari belakang.” Sejak itu, ia mulai berani berbicara. Pelan-pelan, tapi pasti.
“Bapak Bupati bukan mikir ke situ-situ aja,” kata Hermina ketika ditanya tentang sosok yang membuka jalan ini untuknya. “Dia lebih mikir ke masa depannya orang lain—untuk merubah kabupaten ini. Terima kasih, Bapak.”
di suatu tempat, seorang Bupati yang pernah rela melepaskan kursi Senayan sedang berjalan dari kampung ke kampung lagi, meyakinkan orang tua demi orang tua, satu per satu, bahwa pisang dan kelapa itu memang tidak berbuah dalam semalam. Tapi ia sedang ditanam. Dengan tangan yang tulus. Dengan hati yang ikhlas.

Ki Hajar Dewantara pernah bermimpi tentang pemimpin yang hadir di depan, di tengah, dan di belakang rakyatnya. Nelson Mandela pernah berkata bahwa pendidikan adalah senjata untuk mengubah dunia. ”Di Mappi, keduanya sedang terjadi sekaligus.”
Dan kelak, ketika musimnya tiba, sungai-sungai Mappi akan mengalirkan sesuatu yang berbeda. Bukan hanya air. Bukan hanya ikan. Tapi nama-nama. Gelar-gelar. Mimpi-mimpi yang akhirnya punya jalan pulang.
— Selesai —