JAKARTA, Humas UNJ — Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bekerja sama dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN) menyelenggarakan kegiatan BSN Goes to Campus bertema “Kampus Berdampak: Lulusan Siap Bersaing di Dunia Kerja” di Aula Latief Hendraningrat, Kampus UNJ, Kamis (16/7/2026). Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan pentingnya budaya mutu dan standarisasi kepada mahasiswa sebagai bagian dari persiapan menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.
Kegiatan yang digelar melalui Kantor Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Bisnis UNJ tersebut menghadirkan narasumber dari BSN, akademisi, dan praktisi industri untuk membahas hubungan antara standar, kualitas sumber daya manusia, serta daya saing lulusan perguruan tinggi.
Direktur Kerja Sama dan Bisnis UNJ, Rahmat Dharmawan, mengatakan perkembangan teknologi dan transformasi digital telah mengubah berbagai sektor industri dalam waktu yang relatif singkat. Perubahan tersebut, menurutnya, menuntut perguruan tinggi untuk terus menyesuaikan proses pendidikan agar selaras dengan kebutuhan dunia kerja.
Ia menjelaskan bahwa kemajuan teknologi tidak mengurangi pentingnya kualitas sumber daya manusia. Sebaliknya, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan menjadi salah satu kompetensi yang semakin dibutuhkan.
“Perubahan industri berlangsung sangat cepat. Karena itu, lulusan perguruan tinggi harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi sekaligus memahami kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang,” kata Rahmat saat membuka kegiatan.
Menurut dia, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai teori dan kompetensi akademik. Mahasiswa juga perlu memahami standar mutu, budaya kerja, dan kebutuhan industri agar mampu bersaing setelah menyelesaikan pendidikan.
Rahmat menilai masih terdapat tantangan dalam membangun keterhubungan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Karena itu, penguatan budaya mutu dan pemahaman mengenai standarisasi menjadi salah satu langkah untuk memperkecil kesenjangan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa standar bukan sekadar aturan yang harus dipenuhi, melainkan instrumen untuk menjaga kualitas, meningkatkan kepercayaan, menjamin keamanan, dan mendorong inovasi. Pemahaman mengenai standar juga penting agar mahasiswa memiliki perspektif yang lebih luas mengenai kualitas produk dan layanan yang berlaku di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam kesempatan itu, Rahmat juga menyoroti pentingnya penguatan pendidikan vokasi yang lebih dekat dengan kebutuhan industri. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha perlu terus diperkuat melalui penyusunan kurikulum, program magang, teaching factory, hingga keterlibatan praktisi industri dalam proses pembelajaran.
Sementara itu, Analis Standardisasi BSN, Budi Triswanto, menjelaskan bahwa standar memiliki fungsi penting dalam menciptakan kesamaan persepsi antara produsen, konsumen, dan pelaku industri. Dengan adanya standar, kualitas suatu produk atau layanan dapat diukur menggunakan parameter yang sama.
Menurut Budi, BSN memiliki peran dalam mengembangkan Standar Nasional Indonesia (SNI) bersama berbagai pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi. Selain itu, BSN juga mewakili Indonesia dalam sejumlah organisasi standardisasi internasional.
Ia menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam pengembangan standar, baik melalui penelitian, penyusunan rekomendasi standar, keterlibatan dalam komite teknis, maupun kontribusi akademisi Indonesia dalam forum internasional.
Pada sesi berikutnya, dosen Program Studi Rekayasa Keselamatan Kebakaran UNJ, Triyono, membahas pentingnya budaya mutu dalam menghadapi perkembangan industri menuju era Society 5.0. Menurutnya, standar berperan dalam menjamin kualitas dan keamanan produk sekaligus meningkatkan daya saing lulusan di pasar kerja.
Triyono menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi agar pendidikan tinggi mampu menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Adapun praktisi industri, Helvin Herman Tirtadjaja dari Schneider Indonesia, menjelaskan bahwa standar menjadi bagian penting dalam menjamin keamanan dan kesesuaian produk. Ia mengingatkan bahwa produk yang tidak memenuhi standar dapat menimbulkan berbagai risiko, mulai dari kerusakan peralatan hingga ancaman keselamatan pengguna.
Menurut Helvin, generasi muda perlu memahami standar tidak hanya sebagai pengguna produk, tetapi juga sebagai calon inovator, profesional, maupun wirausahawan yang akan menghasilkan produk dan layanan yang kompetitif.
Melalui kegiatan BSN Goes to Campus, UNJ dan BSN mendorong mahasiswa untuk memahami pentingnya budaya mutu dan standarisasi sebagai bagian dari kompetensi profesional. Pemahaman tersebut diharapkan dapat mendukung kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja sekaligus meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia di tingkat nasional maupun global.