Dosen Sosiologi FISH UNJ Paparkan Riset tentang Kebebasan Akademik di Konferensi Regional Asia Tenggara

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ dan MIICA Hadirkan Ajang Inovasi…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

UNJ dan Labschool Buktikan Kekuatan Inovasi Anak Bangsa di Ajang Internasional I3C dan IWC 2026, Berikut Daftar Juaranya!

Mahasiswa Kimia FMIPA UNJ Raih Platinum Award Internasional Lewat Kit Deteksi Cepat Bakteri Patogen Pangan di Ajang I3C dan IWC 2026

Kenalkan SDGs Lewat Permainan Edukatif, Siswa SMA Labschool Cibubur Menang di Kompetisi Internasional I3C dan IWC 2026

Board Game Edukasi Mental Health Karya Siswa SMA Labschool Jakarta Raih Platinum Award di Ajang Inovasi Internasional

I3C dan IWC 2026 Resmi Ditutup, UNJ dan MIICA Satukan Inovator Muda dalam Panggung Kreativitas Global

Bangkok, Humas UNJ – Achmad Firas Khudi yang merupakan dosen Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta (FISH UNJ), turut berpartisipasi dalam “The 1st Southeast Asia Regional Conference on Academic Freedom” dengan tema “Reclaiming the Space” atau Konferensi Regional Asia Tenggara Pertama tentang Kebebasan Akademik. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Southeast Asia Coalition for Academic Freedom (SEACAF) bekerja sama dengan Mahidol University, dan berlangsung pada 3–4 November 2025 di Prince Mahidol Hall Convention Center, Mahidol University, Thailand.

Konferensi ini mempertemukan para akademisi, peneliti, dan aktivis pendidikan dari berbagai negara di Asia Tenggara serta beberapa kawasan lain seperti Inggris, Italia, Amerika Serikat, dan Afrika. Pada kegiatan tersebut, Achmad Firas Khudi mempresentasikan penelitian berjudul “Untamed Voices: Activist Scholars and the Public in Indonesia’s Post-Jokowi Neoliberal Turn.”

Firas tampil pada Panel 2.1 yang bertema “Navigating Spaces of Academic Freedom”, yang dimoderatori oleh Prof. Khoo Ying Hooi dari Universiti Malaya. Dalam panel tersebut, ia berkolaborasi dan berdiskusi dengan peneliti lain dari Coventry University, University of the Philippines, serta dua aktivis pendidikan asal Vietnam.

Melalui paparannya, Firas menyoroti perkembangan neoliberalisme di Indonesia pasca-era Presiden Jokowi, termasuk implementasi kebijakan “Kampus Merdeka” yang dinilainya memperkuat kontrol manajerial dalam pendidikan tinggi. Ia berargumen bahwa kebijakan tersebut berpotensi menciptakan bentuk baru “kapitalisme pengetahuan” yang membatasi ruang bagi akademisi-aktivis dalam menghubungkan pengetahuan kritis dengan aksi kolektif.

Penelitian ini mengidentifikasi tiga arena utama tempat dinamika tersebut terjadi, yakni pendidikan tinggi, ruang publik, dan kebijakan negara. Melalui pendekatan sosiologis dan analisis kritis, Firas mengajak peserta konferensi untuk merefleksikan kembali peran akademisi dalam mempertahankan kebebasan berpikir serta keberpihakan terhadap masyarakat sipil di tengah tekanan neoliberalisme dan birokratisasi pendidikan.

Partisipasi Achmad Firas Khudi dalam konferensi internasional ini menjadi bentuk kontribusi akademik UNJ dalam memperkuat jejaring riset dan diskursus kebebasan akademik di kawasan Asia Tenggara. Keterlibatan ini juga mencerminkan komitmen sivitas akademika FISH UNJ dalam memperjuangkan nilai-nilai kritis, kebebasan berpikir, dan tanggung jawab sosial di dunia pendidikan tinggi.