Pesan Haru Bastiana Lulusan FIKK UNJ Asal Papua: “Jangan Sia-siakan Beasiswa, Mari Pulang dan Bangun Tanah Kita!”

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Konsistensi dan Manajemen Waktu Jadi Kunci…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Berkolaborasi Lintas Kampus Semasa Kuliah, Tempa Syifa Jadi Mahasiswa Unggul hingga  Raih Wisudawati Terbaik FT UNJ

Tarian Nindak Ondel Hidupkan Spirit Budaya dalam Gelaran Wisuda UNJ Tahun Akademik 2025/2026 Sesi Kedua

Sikap Ta’dzim Pada Dosen Jadi Kunci Sukses Sholla Raih Wisudawan Terbaik Magister FIKK UNJ

Reputasi UNJ Jadi Motivasi Galih Berkuliah S2 hingga Jadi Wisudawan Terbaik

Kisah Cindy, Si Peracik Kosmetik Berbahan Rumput Laut yang Raih Wisudawati Terbaik FT UNJ

Jakarta, Humas UNJ – Membawa mimpi dari ujung timur Nusantara, langkah Bastiana Margret Chelsy Nasadit menginjak Ibu Kota pada tahun 2019 lalu sempat diwarnai dengan keraguan dan ketakutan yang mendalam. Gadis asal Kabupaten Kaimana, Papua Barat ini adalah salah satu penerima Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) yang ditempatkan di Program Studi Pendidikan Jasmani, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Kini, setelah melewati proses panjang selama kurang lebih enam tahun, Bastiana berdiri dengan bangga mengenakan toganya. Ia tak hanya berhasil meraih gelar sarjana dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.4 yang dikukuhkan pada Wisuda Tahun Akademik 2025/2025 sesi kedua pada 14 April 2025 di GOR UNJ. Tak hanya gelar sarjana, Bastiana juga membawa pulang pelajaran hidup yang jauh lebih berharga dari sekadar ijazah.

Sebagai perantau dari Papua, beradaptasi di kota metropolitan sebesar Jakarta bukanlah hal yang mudah. Bastiana mengaku, di awal kedatangannya, ada ketakutan besar yang menghantui pikirannya.

“Awal datang ke UNJ itu ada rasa takut. Takut karena susah beradaptasi dengan lingkungan baru, dan jujur saja, takut karena sering mendengar adanya diskriminasi terhadap orang Papua,” ungkapnya mengenang masa-masa awal perkuliahan.

Namun, ketakutan itu perlahan sirna. Kampus UNJ, khususnya FIKK, menyambutnya dengan tangan terbuka.

“Puji Tuhan, saya tidak mengalami diskriminasi sama sekali. Di lingkungan kampus UNJ, teman-teman saya menerima saya dengan sangat baik. Dari situ saya belajar bahwa ketika kita sudah sampai di ibu kota yang sebesar ini, mental kita yang harus kuat untuk menghadapi lingkungan sekitar,” tambahnya dengan senyum lega.

Penerimaan yang hangat itu perlahan mengubah cara pandangnya terhadap Jakarta.
“Dulu awal datang saya merasa Jakarta bukan tempat saya. Tapi sekarang, Jakarta adalah rumah kedua saya. Saya sudah sangat nyaman di sini,” tutur Bastiana haru.

Menariknya, jurusan Pendidikan Jasmani sebenarnya bukan pilihan pertamanya. Bastiana awalnya berharap bisa masuk ke Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Namun, karena latar belakangnya yang suka dengan sepak takraw, pihak kementerian penyelenggara beasiswa mengarahkannya untuk masuk ke FIKK UNJ.

Alih-alih mengeluh, Bastiana membuktikan totalitasnya di dunia olahraga. Meski perlahan meninggalkan Sepak Takraw sejak 2019, ia menemukan passion baru pada tahun 2022 dengan bergabung di cabang olahraga Floorball (bola lantai). Kecintaannya pada olahraga ini bahkan ia tuangkan dalam tugas akhirnya yang berjudul “Upaya Meningkatkan Keterampilan Shooting dalam Permainan Floorball dengan Menggunakan Media pada Siswa SMP,”.

Terkait masa studinya yang memakan waktu hingga enam tahun, Bastiana dengan penuh kedewasaan menolak untuk menyalahkan keadaan. Ia membenarkan pepatah di kalangan mahasiswa bahwa kuliah di UNJ itu “masuk gampang, keluar susah.” Susahnya karena diri sendiri.

“Sebenarnya tidak ada hambatan eksternal yang berarti, hambatannya murni dari diri saya sendiri. Melawan rasa malas dan rintangan internal itulah yang membuat saya baru bisa menyelesaikan studi sekarang,” akunya jujur.

Keberhasilannya lulus dari UNJ langsung membuahkan tawaran untuk melanjutkan studi ke jenjang S-2. Namun, suara rindu dari kampung halaman memanggilnya lebih kuat. Kedua orang tuanya meminta Bastiana untuk kembali ke Kaimana.

“Saya pulang dulu untuk memenuhi permintaan orang tua. Nanti di sana saya berencana menjadi guru olahraga honorer terlebih dahulu, dan jika ada pendaftaran CPNS, saya akan ikut. Kalau memang rezekinya, saya pasti akan lanjut S-2 suatu hari nanti,” jelasnya optimis.

Di akhir perbincangannya, Bastiana menitipkan pesan mendalam bagi anak-anak muda Papua, khususnya mereka yang menerima keistimewaan berupa beasiswa afirmasi. Ia sangat menyayangkan jika ada mahasiswa Papua yang menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut dengan putus kuliah atau tidak bertanggung jawab.

“Kuliah itu sangat penting, apalagi buat kami anak-anak Papua sebagai generasi penerus. Kita yang akan membangun Papua ke depannya. Jadi, untuk teman-teman yang sudah dapat beasiswa gratis dan biaya hidup, pergunakanlah dengan baik. Kuliah baik-baik, selesaikan studinya, lalu pulang dan bangun tanah Papua!” pesannya penuh semangat.