SPs UNJ Dorong Pemanfaatan AI yang Berpusat pada Manusia dalam Pendidikan

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. SPs UNJ Dorong Pemanfaatan AI yang…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

DOSEN FMIPA UNJ IRWANTO KEMBALI MASUK DAFTAR TOP 2% SCIENTISTS WORLDWIDE 2026

Humas dan IP UNJ Raih Penghargaan Gold dan Silver di Ajang The 8th Anugerah Humas Indonesia 2026

BP3 UNJ Sambut Delegasi Capitol University Filipina dalam Program Pertukaran Mengajar SEA Teacher Batch 14

SPs UNJ dan UNIMED Jalin Kerja Sama Pengembangan Linguistik Terapan

Mahasiswa Mappi PGSD FIP UNJ Tingkatkan Kompetensi Bahasa Inggris Melalui English Camp Interaktif di Puncak Bogor

JAKARTA, Humas UNJ — Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (SPs UNJ) kembali menyelenggarakan International Visiting Scholars Program 2026 dengan menghadirkan Associate Professor Ju Seong Lee dari The Education University of Hong Kong. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Lantai 5, Gedung Bung Hatta, SPs UNJ, Kamis (8/10/26), mengangkat tema “AI-Human Collaboration Models in Education”.

Kepala Pusat Kerja Sama dan Internasional SPs UNJ, Prof. Setia Budi, yang mewakili Direktur SPs UNJ, membuka kegiatan sekaligus menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ju Seong Lee. Ia menilai kehadiran akademisi dari The Education University of Hong Kong tersebut menjadi kesempatan bagi sivitas akademika UNJ untuk memperoleh perspektif internasional mengenai perkembangan dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan.

“Kami merasa terhormat dapat menyambut Ju Seong Lee kembali ke Jakarta. Kehadiran beliau menjadi kesempatan bagi sivitas akademika untuk memperoleh wawasan mengenai kolaborasi manusia dan kecerdasan buatan dalam pendidikan,” ujar Prof. Setia Budi.

Ia berharap pembahasan yang disampaikan Ju Seong Lee dapat memperluas wawasan peserta sekaligus mendorong diskusi mengenai pemanfaatan AI dalam mendukung pembelajaran dan pengembangan pendidikan. Sebelumnya, Ju Seong Lee juga telah berkunjung ke SPs UNJ dalam visiting professor dalam rangka memperkuat interaksi akademik dan pertukaran pengetahuan antara kedua institusi.

Dalam pemaparannya, Ju Seong Lee menekankan bahwa pembahasan mengenai AI dalam pendidikan tidak seharusnya hanya berfokus pada kemampuan teknologi dalam menggantikan pekerjaan manusia. Menurutnya, pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana menentukan pembagian peran yang tepat antara manusia dan AI berdasarkan karakteristik pekerjaan yang dilakukan.

Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki keunggulan dalam memahami konteks, mengidentifikasi persoalan, menentukan prioritas, mengambil keputusan, dan memberikan interpretasi. Sementara itu, AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung pekerjaan yang bersifat repetitif dan analitis, seperti pengolahan data, transkripsi, identifikasi pola, pengodean, serta analisis deskriptif.

“AI dapat membantu kita dalam mengolah dan menemukan pola dari data, tetapi manusia tetap memiliki peran penting dalam memahami konteks dan memberikan makna terhadap temuan tersebut,” jelas Ju Seong Lee.

Dalam konteks penelitian pendidikan, Ju Seong Lee menekankan pentingnya menempatkan persoalan sebagai titik awal, bukan teknologi yang hendak digunakan. Peneliti perlu terlebih dahulu mengidentifikasi masalah, merumuskan tujuan dan pertanyaan penelitian, menentukan bukti yang dibutuhkan, kemudian memilih teknologi yang sesuai untuk mendukung proses tersebut.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar penggunaan AI tidak sekadar menjadi tujuan penelitian, melainkan benar-benar memberikan kontribusi terhadap pemecahan persoalan pendidikan. Pemanfaatan teknologi juga perlu mempertimbangkan keterbatasan AI agar hasil yang diperoleh tetap relevan dengan kebutuhan penelitian.

Untuk memperkuat pemahaman tersebut, Ju Seong Lee memberikan ilustrasi mengenai kemampuan berbicara seorang siswa sekolah dasar dalam bahasa Inggris. Jawaban siswa yang singkat tidak serta-merta menunjukkan rendahnya kemampuan bahasa, karena kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kecemasan, kepercayaan diri, working memory, maupun lingkungan pembelajaran.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengetahuan kontekstual yang dimiliki pendidik dan peneliti. Melalui observasi dan interaksi langsung, manusia dapat memahami berbagai faktor yang melatarbelakangi perilaku peserta didik, sementara AI dapat membantu mengolah data yang diperoleh secara lebih cepat dan sistematis.

Dalam penelitian kemampuan berbicara, misalnya, AI dapat digunakan untuk menganalisis rekaman percakapan peserta didik berdasarkan sejumlah indikator, seperti kelancaran (fluency), ketepatan (accuracy), kompleksitas bahasa (complexity), keberagaman kosakata, serta pola interaksi selama percakapan.

Data tersebut dapat membantu peneliti melihat perkembangan kemampuan peserta didik dari waktu ke waktu. Namun, Ju Seong Lee menegaskan bahwa hasil analisis AI tetap membutuhkan verifikasi dan interpretasi manusia agar temuan yang diperoleh tidak dilepaskan dari konteks peserta didik.

Ia mencontohkan ketika terjadi peningkatan durasi percakapan seorang siswa dalam suatu sesi. Temuan tersebut tidak cukup hanya dibaca sebagai peningkatan kemampuan berbicara, tetapi perlu ditelusuri lebih lanjut untuk memahami faktor yang memengaruhinya, misalnya meningkatnya kenyamanan siswa, ketertarikan terhadap topik, atau pengalaman positif selama proses pembelajaran.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa kolaborasi manusia dan AI dapat membentuk proses penelitian yang lebih komprehensif. AI berperan membantu menghasilkan dan mengolah bukti, sedangkan manusia tetap bertanggung jawab dalam menentukan persoalan, memahami konteks, memverifikasi data, memberikan interpretasi, dan mengambil keputusan.

Ju Seong Lee juga menekankan pentingnya keterhubungan antara masalah penelitian, pertanyaan penelitian, instrumen, data, aktivitas pembelajaran, hingga interpretasi hasil. Keterkaitan antarkomponen tersebut diperlukan agar penelitian berjalan secara sistematis dan mampu menghasilkan temuan yang relevan dengan persoalan pendidikan.

Kegiatan International Visiting Scholars Program 2026 kemudian dilanjutkan dengan sesi brainstorming dan diskusi bersama peserta. Forum tersebut menjadi ruang bagi sivitas akademika UNJ dan peserta umum untuk bertukar pandangan dan memperdalam pemahaman mengenai penerapan AI dalam pendidikan.

Melalui kegiatan ini, SPs UNJ terus memperkuat ruang pertukaran pengetahuan dan perspektif internasional dalam merespons perkembangan teknologi di bidang pendidikan. Kolaborasi manusia dan AI yang berpusat pada kebutuhan serta konteks pendidikan menjadi salah satu perspektif penting dalam mendorong pemanfaatan teknologi secara kritis, bertanggung jawab, dan bermakna.