Jakarta, Humas UNJ – SMA Unggul Garuda Transformasi meneguhkan langkahnya sebagai sekolah unggulan yang mempersiapkan calon mahasiswa berdaya saing tinggi. Program ini dirancang untuk mencetak siswa yang mampu berkompetisi dengan rekan-rekannya di luar negeri, khususnya dalam bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM).
Peluncuran Program SMA Unggul Garuda Transformasi (SUGAR) Tahun 2025 digelar pada 18 September 2025 di Kantor Dikti-Saintek. Acara dibuka pada pagi hari dengan penandatanganan nota kesepahaman, dilanjutkan dengan sesi siang hingga esok hari berupa pembekalan intensif yang dipusatkan di Hotel Harris. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan pemerintah daerah, yayasan pendidikan, perguruan tinggi pelaksana, serta pimpinan sekolah unggulan dari seluruh Indonesia.
Dalam sambutannya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa SMA Garuda harus melahirkan lulusan yang siap menjadi “petarung global”. “Kita menargetkan setidaknya 10 persen dari seluruh siswa SMA Indonesia memiliki daya saing internasional. Mereka harus mampu bersaing di penguasaan STEM agar menjadi pemain utama di masa depan,” ujarnya.
Brian mengingatkan bahwa penguasaan STEM merupakan kebutuhan strategis bagi pertumbuhan industri nasional. “Sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, kita harus sudah memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir. Untuk itu, kita memerlukan para ahli nuklir dari dalam negeri. Kita juga harus menyiapkan insinyur semikonduktor untuk memperkuat industri teknologi nasional,” tegasnya.
Ia menambahkan, SMA Garuda tidak boleh eksklusif hanya untuk siswa internal, tetapi harus menjadi hub pendidikan unggul yang dapat menarik siswa-siswa berbakat dari sekolah lain. “Model ini akan memperluas dampak transformasi, menjangkau ekosistem pendidikan yang lebih luas, dan menularkan semangat berprestasi,” katanya.
Program SUGAR melibatkan 12 sekolah unggulan di seluruh Indonesia, termasuk SMAN 10 Fajar Harapan Banda Aceh, SMAS Unggul Del, MAN IC OKI, SMAN Unggul MH Thamrin Jakarta, SMA Cahaya Rancamaya, SMAN Banua Kalsel, SMA Pradita Dirgantara, SMAN 10 Samarinda, SMA Taruna Nusantara, SMA Siwalima Ambon, MAN IC Gorontalo, dan SMA Averos Sorong.

Untuk memastikan kualitas, enam perguruan tinggi ditunjuk sebagai mitra pelaksana, yaitu Universitas Negeri Jakarta, Universitas Indonesia, Universitas Pendidikan Nasional, Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, dan IPB University. Perguruan tinggi ini akan mendampingi pengayaan kurikulum, membimbing riset siswa, serta melatih guru agar sesuai standar internasional.
Dalam acara ini, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) diwakili oleh Andy Hadiyanto, Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Usaha (WR 4), yang hadir mewakili Rektor untuk menandatangani naskah kerja sama. Kehadiran Andy menegaskan komitmen UNJ dalam mendukung pengembangan sekolah unggulan dan mencetak generasi peneliti muda.
Selain itu, hadir pula tim Person in Charge (PIC) UNJ yang akan mengawal implementasi program. Mereka adalah Riyadi (PIC SUGAR UNJ dan PIC PT), Ati Sumiati (PIC IELTS), Tri Murdianto (PIC SAT), Mira (PIC College Counselor), dan Suparno (PIC Manajemen Sekolah). Kehadiran mereka memastikan pelaksanaan SUGAR berjalan menyeluruh, mulai dari penguatan bahasa asing hingga manajemen sekolah.
Kehadiran para PIC ini menjadi sinyal kuat bahwa UNJ menyiapkan pendampingan yang komprehensif, mulai dari persiapan ujian internasional, penguatan keterampilan bahasa, bimbingan karier, hingga manajemen sekolah yang efektif. Dengan dukungan ini, implementasi SUGAR diharapkan berjalan tepat sasaran dan memberi dampak nyata.
Brian menegaskan bahwa dukungan pemerintah telah diikat dengan 11 nota kesepakatan dengan pemerintah daerah, 5 perjanjian dengan yayasan SMA swasta, dan 1 perjanjian dengan Ditjen Pendidikan Islam. “Semua ini adalah langkah bersama agar program tidak hanya berhenti di meja kebijakan, tetapi benar-benar terlaksana di lapangan,” jelasnya.
Program ini mencakup pembinaan akademik berupa pelatihan SAT, IELTS/TOEFL, riset kolaboratif, hingga penelitian mini. Sementara itu, pembinaan non-akademik meliputi pelatihan kepemimpinan, bimbingan karakter, pengembangan minat-bakat, penyusunan portofolio prestasi, dan pembekalan pra-kuliah.
Target program ini mencakup 3.785 siswa (1.914 dari SMA Garuda dan 1.861 dari sekolah mitra) dan melibatkan 127 guru inti serta 279 guru GTK. Program ini sekaligus memperkuat branding sekolah agar menjadi pusat rujukan dan inspirasi bagi sekolah lain di sekitarnya.
Menteri Brian menutup acara dengan pernyataan resmi yang penuh optimisme. “Kita ingin melahirkan ilmuwan dan peneliti kelas dunia dari bangsa Indonesia. Mereka harus mampu bersaing dengan bangsa lain dalam penguasaan teknologi. Program ini adalah tiket kita menuju kemandirian dan kejayaan bangsa,” pungkasnya.