UNJ Bahas Masa Depan Pendidikan di Tengah Perkembangan AI

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Bahas Masa Depan Pendidikan di…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

UNJ dan Batangas State University Perkuat Kolaborasi melalui Psychological First Aid dan Student Well-Being

UNJ Gelar Peringatan Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2026

Kiprah dan Prestasi UNJ Mengharumkan Indonesia di Asian Games 2026

Delegasi UNJ Kunjungi KBRI Doha, Bahas Penguatan Kerja Sama Pendidikan dan Budaya dengan Qatar

Dosen FBS UNJ Raih IKAPI Award 2026, Buku “Gaza: Suatu Malam di Jakarta” Jadi Book of the Year

BOGOR, Humas UNJ — Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) mengubah cara manusia belajar, bekerja, meneliti, dan mengambil keputusan. Perguruan tinggi menghadapi tantangan untuk tidak hanya menggunakan teknologi tersebut, tetapi juga menyiapkan sumber daya manusia yang mampu memahami, mengembangkan, dan mengendalikan pemanfaatannya.

Persoalan itu dibahas dalam Forum Group Discussion Universitas Negeri Jakarta (FGD UNJ) bertema “Pendidikan Transformatif di Era Artificial Intelligence Menuju Indonesia Emas 2045” di Ciawi, Bogor, Sabtu (12/09/26). Sejumlah akademisi dan pejabat pemerintah membahas perubahan pendidikan, kebutuhan talenta, riset, hingga tata kelola AI di perguruan tinggi.

Rektor UNJ, Prof. Komarudin mengatakan perkembangan AI membuat pendidikan transformatif semakin penting. Menurut dia, UNJ siap mengambil bagian dalam pengembangan pendidikan yang menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi, termasuk melalui penguatan riset di bidang AI.

“UNJ siap mengembangkan itu. Salah satu riset yang dikembangkan adalah AI dan lainnya,” ujar Prof. Komarudin.

Menurut Prof. Komarudin, perguruan tinggi perlu melihat AI sebagai alat untuk memperkuat proses pendidikan, bukan teknologi yang mengambil alih peran manusia.

“Kita tidak ingin diberdaya oleh AI, tetapi bagaimana menggunakan AI untuk pembelajaran dan pendidikan,” katanya.

Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Diponegoro, Prof. Mohamad Nasir yang hadir dalam kegiatan ini mengatakan pencapaian Indonesia Emas 2045 tidak dapat hanya bertumpu pada kekayaan sumber daya alam. Kualitas sumber daya manusia menjadi faktor yang menentukan kemampuan Indonesia menghadapi perubahan.

Indonesia, kata dia, membutuhkan sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan, mampu berinovasi, memiliki karakter, dan dapat memimpin perubahan. Perkembangan teknologi yang cepat juga membuat perguruan tinggi perlu menyiapkan lulusan dengan kemampuan yang lebih luas.

“Indonesia Emas 2045 tidak ditentukan oleh SDA, tetapi kualitas SDM yang berilmu, berinovasi, dan berkarakter,” ujar Prof. Nasir yang juga Menristekdikti Periode 2014-2019.

Prof. Nasir mengingatkan bahwa ketergantungan pada sumber daya alam memiliki risiko jika tidak diikuti tata kelola yang baik. Indonesia juga menghadapi tantangan berupa konflik, ketergantungan ekonomi, serta persoalan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Menurut dia, perkembangan digital dan AI justru membuka peluang baru, terutama ketika Indonesia memasuki periode bonus demografi. Perubahan teknologi telah memengaruhi cara masyarakat bekerja, belajar, dan berinteraksi sehingga perguruan tinggi perlu menyesuaikan perannya.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Arif Satria yang hadir dalam kegiatan ini mengatakan tantangan Indonesia tidak berhenti pada kemampuan menggunakan AI. Indonesia perlu membangun kemampuan untuk menciptakan teknologi tersebut.

AI, menurut Arif, merupakan salah satu teknologi maju yang perlu dikembangkan bersama teknologi strategis lain, seperti semikonduktor, biogenomik, dan teknologi kuantum.

Ia membagi kemampuan terhadap AI ke dalam tiga tahap, yakni memahami AI, menggunakan AI, dan membangun AI. Indonesia saat ini perlu memperkuat kemampuan menggunakan AI, tetapi dalam jangka panjang harus bergerak menuju kemampuan membangun teknologi tersebut.

“Bukan sekadar apakah pendidikan menggunakan AI, tetapi mampukah pendidikan melahirkan pencipta teknologi,” kata Prof. Arif.

Membangun AI, kata Prof. Arif, juga tidak cukup dilakukan dengan membuat perangkat lunak atau algoritma. Pengembangannya membutuhkan ekosistem yang mencakup energi, pusat data, cip, sumber daya manusia, riset, industri, dan regulasi.

Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan peneliti dan pencipta teknologi, bukan hanya pengguna. Prof. Arif menilai UNJ memiliki kekuatan pada bidang pendidikan yang dapat menjadi modal untuk mengambil peran dalam pengembangan pendidikan di era AI.

Ia juga membuka peluang kolaborasi antara UNJ dan BRIN, terutama dalam bidang riset dan inovasi.

Sementara itu Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia, Prof. Abdul Haris yang turut hadir dalam kegiatan FGD ini mendorong UNJ mulai memikirkan transformasi menuju Intelligence University.

Menurut Prof. Abdul Haris, transformasi tersebut perlu dimulai dari kemampuan perguruan tinggi mengelola data. Data digunakan untuk memahami kondisi, membuat prediksi, dan menjadi dasar pengambilan keputusan.

“Kita berangkat semua dari data, kita pelajari data, membuat prediksi, dan akhirnya membuat keputusan,” ujarnya.

Ia mendorong perubahan tata kelola perguruan tinggi dari faculty centric menjadi learner centric, dari sekadar menyampaikan pengetahuan menuju penciptaan pengetahuan, serta dari administrasi manual menuju tata kelola yang memanfaatkan AI.

Prof. Abdul Haris juga mengusulkan pengembangan AI Learning Companion, AI-Augmented Faculty, Grand Challenge Teams, dan Intelligence Platform. Menurut dia, keberhasilan transformasi AI tidak semata-mata dilihat dari banyaknya teknologi yang digunakan, melainkan dari perubahan dan dampak yang dihasilkan.

Ia menyarankan UNJ membangun ekosistem AI yang tetap berpijak pada identitas dan kekuatan institusi. UNJ juga dinilai perlu melakukan benchmarking dengan perguruan tinggi di Asia untuk mempelajari pengembangan sistem AI di lingkungan pendidikan tinggi.

Sementara itu, Guru Besar Universitas Gadjah Mada, Prof. Ainun Naim yang turut hadir dalam kegiatan FGD ini mengingatkan bahwa AI membawa manfaat sekaligus risiko bagi pendidikan. Teknologi ini dapat membantu mahasiswa dan peneliti memahami konsep, mengeksplorasi gagasan, memetakan literatur, menerjemahkan bahasa, memperbaiki tata bahasa ilmiah, hingga mendukung kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Namun, penggunaan AI tanpa kendali dapat menimbulkan persoalan, mulai dari hak cipta, privasi, dan akurasi informasi hingga berkurangnya kemampuan berpikir kritis secara mandiri.

“Bagaimanapun manusia tetap pengendali. Artinya, tidak boleh menerima dan bergantung begitu saja pada hasil AI,” kata Prof. Ainun.

Ia menekankan pentingnya melakukan verifikasi terhadap hasil AI dengan sumber lain. Penggunaan teknologi tersebut juga perlu memperhatikan transparansi, tanggung jawab intelektual, perlindungan data pribadi, serta keadilan dalam memperoleh akses.

Diskusi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan utama pendidikan di era AI bukan sekadar bagaimana teknologi digunakan di ruang kelas. Perguruan tinggi juga dituntut menyiapkan manusia yang mampu berpikir kritis, menghasilkan pengetahuan, melakukan riset, dan mengembangkan teknologi dengan mempertimbangkan aspek etika.

Bagi UNJ, pembahasan mengenai pendidikan transformatif menjadi bagian dari upaya menyesuaikan pendidikan tinggi dengan perubahan teknologi sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pengembangan sumber daya manusia dan riset. Penguatan riset AI, pengembangan talenta, pemanfaatan data, serta kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi sejumlah agenda yang muncul dalam forum tersebut menuju Indonesia Emas 2045.