Jakarta, Humas UNJ – Kisah inspiratif datang dari Tiara Agustin Saraswati atau biasa disapa Tiara, wisudawati disabilitas Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (FBS UNJ) angkatan 2021 ini resmi menyelesaikan studinya pada pelaksanaan Wisuda Tahun Akademik 2025/2026 Sesi Pertama yang digelar pada 13 April 2026 di GOR UNJ. Menempuh pendidikan selama 4,5 tahun, Tiara membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita.
“Cita-cita tanpa doa juga bagai burung tanpa sayap, keduanya bersinergi dan tumbuh menjadi fondasi kehidupan,” ungkapnya saat diwawancarai usai pelaksanaan wisuda.
Perjalanan Tiara menuju bangku kuliah tidaklah mudah. Ia sempat gagal dalam seleksi masuk perguruan tinggi melalui jalur SBMPTN. Namun, kegagalan tersebut tidak mematahkan semangatnya. Ia bangkit dan akhirnya diterima di UNJ melalui jalur mandiri pada tahun 2021.
“Senang dan bangga bisa kuliah di UNJ, apalagi setelah sempat gagal sebelumnya. Ini menjadi kesempatan yang sangat saya syukuri,” ungkap Tiara.
Selama menjalani perkuliahan, Tiara mengaku tidak mengalami kendala berarti. Lingkungan kampus yang suportif, baik dari dosen maupun teman-teman, menjadi faktor penting yang membantunya berkembang.
“Semua teman dan dosen sangat mendukung proses belajar saya,” ujarnya.
Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Tiara adalah saat mempelajari Bahasa Arab, terutama karena ia tidak memiliki latar belakang pendidikan pesantren. Tantangan dalam menghafal dan memahami materi menjadi proses yang cukup menguras tenaga dan pikiran.
“Belajar Bahasa Arab itu cukup menantang, terutama dalam hafalan. Tapi dari situ saya belajar banyak dan terus berkembang,” katanya.
Sebagai mahasiswa disabilitas tuna daksa, Tiara juga menghadapi tantangan dalam membangun kepercayaan diri. Meski demikian, ia terus berusaha optimis dan yakin mampu melewati setiap hambatan.
“Kepercayaan diri memang jadi tantangan, tapi saya selalu berusaha yakin bahwa saya bisa,” tuturnya.

Dukungan keluarga, khususnya sang ayah, menjadi sumber kekuatan terbesar dalam perjalanan akademiknya. Tiara mengungkapkan rasa harunya atas peran ayah yang selalu setia mengantar dan menunggunya selama menjalani perkuliahan.
“Ayah selalu mengantarkan saya ke kampus dan menunggu sampai selesai. Itu sangat berarti bagi saya,” ungkapnya penuh haru.
Sang ayah, Kurnain, menuturkan bahwa pendidikan menjadi kunci utama untuk masa depan anaknya. Ia berharap Tiara dapat tumbuh mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, meskipun memiliki keterbatasan.
“Saya ingin anak saya mandiri. Melalui pendidikan, masa depannya bisa terbentuk lebih baik,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa setiap orang berhak menentukan masa depannya, tanpa terkecuali. Menurut Kurnain banyak individu dengan kondisi lebih sulit yang mampu sukses, sehingga tidak ada alasan untuk menyerah.
“Jangan pernah menilai seseorang dari fisiknya saja. Mereka yang disabilitas justru sering kali berjuang lebih keras dalam hidup,” pesannya.
Selama kuliah, Tiara juga aktif mengikuti berbagai kegiatan di luar akademik yang semakin memotivasinya untuk terus berkembang. Ia memiliki cita-cita besar untuk menjadi pendidik, baik sebagai guru maupun dosen, serta mendirikan sekolah yang inklusif.
“Saya ingin menunjukkan bahwa kita semua sama. Meskipun ada kekurangan, semua orang berhak bahagia, meraih cita-cita, dan mendapatkan pekerjaan,” tegasnya.
Tiara juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa lainnya agar terus semangat dalam kondisi apa pun.
“Kita hanya bisa berdoa, berusaha dan berjuang, sisanya? Biar Tuhan yang tentukan,” katanya.
Kisah Tiara menjadi bukti nyata bahwa semangat, dukungan keluarga, dan lingkungan yang inklusif mampu melahirkan generasi tangguh yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga menginspirasi. UNJ pun diharapkan terus berkembang sebagai kampus yang ramah dan mendukung seluruh mahasiswa, termasuk penyandang disabilitas, dalam meraih masa depan yang lebih baik.