Berakit-rakit dari Rawa Mappi, Berenang-renang Kami Gapai Mimpi

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Tutup Program New Colombo Plan…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Resonansi Mandela di Papua Selatan: Senjata Pendidikan dari Bupati Mappi

Prof. Suyono: Hardiknas 2026 Momentum Perkuat Literasi Sains dan Integritas Akademik

Hardiknas 2026, Andy Hadiyanto Soroti Pentingnya Kolaborasi Global dan Relevansi Pendidikan

Prof. Fahrurrozi Tegaskan Pendidikan sebagai Investasi Besar Bangsa, UNJ Siapkan SDM Unggul untuk Indonesia

Refleksi Hardiknas 2026, Prof. Ari Saptono Tekankan Pendidikan Adaptif, Inklusif, dan Berkelanjutan


Ada yang Kerry tidak pernah ceritakan kepada siapapun tentang hari itu.

Hari ketika teman-temannya sudah lebih dulu berangkat ke kabupaten untuk mengikuti tes masuk UGM. Hari ketika sekolahnya sudah menyiapkan dan memasukkannya dalam daftar, sudah berharap ia akan ikut bersama yang lain. Tapi Kerry tidak pergi.

Bukan karena tidak mau. Bukan karena tidak berani. Tapi karena tidak ada ongkos untuk naik ketinting, ketinting ialah perahu kecil bermesin yang menjadi satu-satunya jalan menuju kabupaten dari distriknya. Ayahnya seorang pendamping desa dengan gaji dua juta rupiah sebulan. Ibunya berjualan sayur di pasar, Rp10.000 per ikat, Rp10.000 per genggam. Dari situlah mereka hidup, dari situlah Kerry dan kakaknya tumbuh, sekolah, bermimpi.

Ketika Kerry tiba di sekolah dan melihat hasil tes tersebut, seketika gurunya bertanya, “Kenapa kamu tidak ikut? Sudah saya siapkan dengan teman-temanmu. Teman-temanmu sudah jalan” ia hanya bisa tersenyum. Tertawa kecil. Tidak ada kata yang cukup untuk menjelaskan bahwa antara keinginan dan kenyataan, kadang ada sungai yang tidak selalu bisa diseberangi.

Tapi cerita Kerry tidak berhenti di sana.

Ayahnya pergi meminta tolong kepada kenalan-kenalannya. Kakak perempuannya yang waktu itu punya sedikit rezeki turut membantu menanggung ongkos perjalanan. Keesokan harinya setelah menerima hasil ujian sekolah, Kerry langsung berangkat ke kabupaten. Ia tidak tahu persis apa yang akan ia temukan di sana. Ia hanya tahu, ini kesempatannya, dan ia tidak mau melewatkannya lagi.

Di sanalah ia bertemu dengan tes masuk UNJ. Awalnya ia hanya ingin ikut sekadar ikut, tanpa terlalu banyak berharap. “Kalau nggak lolos, ya sudah, nanti ke kesehatan aja,” pikirnya. Tapi ternyata namanya lolos. Namanya masuk dalam seratus perempuan terpilih yang akan dikirimkan ke Jakarta oleh Pemerintah Kabupaten Mappi melalui Program Seribu Sarjana.

Akhirnya Kersen Cinofu atau biasa akrab dipanggil Kerry berhasil menjadi Mahasiswa program studi pendidikan guru sekolah dasar (Prodi PGSD)

“Puji Tuhan, terima kasih,” ujarnya pelan. “Mungkin ini sudah takdir. Mungkin memang Tuhan maunya harus di sini.”

Teripisah beberapa blok dari kamar asrama Kerry, ada seorang perempuan lain yang perjalanannya menuju Jakarta bahkan lebih berliku dan hampir tidak terjadi sama sekali.

Namanya Theofila yanakaimu. Orang-orang memanggilnya Fila.

Ketika ayahnya meninggal dunia, Fila sedang menempuh semester empat di Universitas Musamus Merauke, mengambil jurusan Arsitektur. Ia sudah melewati separuh jalan. Sudah merasakan ritme kuliah, sudah mulai terbiasa dengan kehidupan merantau, bahkan sudah mendapat beasiswa di sana. Tapi kepergian ayahnya mengubah segalanya.

Ia pulang ke Mappi. Dan di sana, dalam kesepian yang berat, ia membuat keputusan yang terasa paling masuk akal saat itu ialah berhenti. Bekerja saja. Cari uang untuk adik-adik. Untuk ibu yang kini harus menanggung lima anak sendirian, ibu yang belum terbiasa bekerja kemudian menjadi ibu yang mengandalkan apapun yang bisa ia kerjakan setiap hari.

“Saya udah putus asa,” akunya. “Bapak saya sudah nggak ada. Saya berpikir, mau kerja aja, buat adik-adik saya.”

Tapi ibunya tidak membiarkannya berhenti. Dengan cara yang tidak keras namun tidak bisa diabaikan, ibunya terus mendorong. “Kuliah baik-baik. Jangan diulang lagi yang dulu. Yang waktu itu kamu tinggalin, ubah itu semua. Kuliah yang baik, biar cepat pulang, lulusnya tepat waktu.”

Kalimat itu sederhana. Tapi dari mulut seorang ibu yang baru kehilangan suami dan kini sendirian menanggung lima anak kalimat itu bukan sekadar nasihat. Itu adalah doa yang diucapkan dengan suara keras supaya anaknya mendengar.

Fila mendengar Ketika pendaftaran Program Seribu Sarjana dibuka, ia sempat ragu bahkan sempat tidak diizinkan oleh seseorang di sekitarnya. Tapi ia memohon. Ia bersikeras. Ia akhirnya ikut, didampingi teman-temannya yang juga mendaftar. Teman-temannya tidak lolos. Vila yang lolos.

“Saya bersyukur,” katanya. Hanya dua kata. Tapi di baliknya ada bertahun-tahun perjuangan, satu kehilangan yang besar, dan seorang ibu yang tidak pernah berhenti percaya. sampai akhirnya Fila diterima menjadi mahasiswa prodi Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer

Ketika pesawat membawa mereka mendarat di Jakarta untuk pertama kalinya, Kerry dan Fila, dua perempuan dari Mappi yang belum pernah saling mengenal sebelumnya merasakan hal yang hampir sama.

Kaget. Kagum. Dan sedikit takut.

“Ih, kok beda ya Jakarta sama Mappi,” kata Vila, mengenang momen itu. “Di Mappi udaranya bagus, sejuk. Nggak berisik. Nah di sini, lihat gedung-gedung tinggi dulunya sempat cuma nonton aja dari TV. Sekarang bisa hadir. Kayak nggak nyangka.”

Kerry merasakan hal serupa. Jakarta terasa seperti dunia lain, bangunannya menjulang, jalannya tak pernah sepi, cahayanya tidak pernah benar-benar padam. “Pertama kali itu rasanya kayak kaget,” ujarnya. “Ternyata Jakarta seperti ini. Beda sekali sama kita.”

Fila punya cerita kecil yang selalu ia ingat dari hari-hari pertamanya di Jakarta suatu siang, ia menyapa seseorang di jalan seperti yang biasa ia lakukan di Mappi, di mana menyapa orang yang tidak dikenal adalah hal yang wajar, bahkan wajib. Tapi orang itu tidak menyapa balik.

Fila bingung. Ia berpikir: “Ini maksudnya apa ya?”

Butuh beberapa hari sampai ia akhirnya mengerti. Di kota ini, menyapa orang asing bukan kebiasaan yang umum. Bukan karena orang Jakarta tidak baik tetapi karena ritme hidup di sini berbeda. Semua bergerak cepat. Semua punya tujuannya masing-masing.

“Nah saya pelajari,” kata Fila. “Oh ternyata begini. Cara mereka kalau belum kenal itu ya begitu. Jadi kita yang harus menyesuaikan saja.”

Kalimat itu “kita yang harus menyesuaikan” adalah kalimat yang paling banyak diucapkan oleh perempuan-perempuan dari Mappi di tahun pertama mereka di Jakarta. Bukan dengan kepahitan. Bukan dengan keluhan yang panjang. Tapi dengan keteguhan yang tenang, keteguhan yang mungkin sudah terbentuk sejak lama, di tepi-tepi sungai dan di bawah pohon-pohon sagu, dari orang tua yang bertahan hidup dengan apapun yang ada.

Namun di tengah segala keasingan itu, ada satu tempat yang terasa seperti rumah yang sedang dibangun perlahan-lahan: kampus UNJ

Keduanya berbicara tentang UNJ dengan mata yang berbinar, dengan antusiasme yang tidak dibuat-buat, yang keluar begitu saja ketika pertanyaannya menyentuh topik yang tepat.

Vila bercerita tentang hari-hari pertama matrikulasi, ketika dosen-dosen Prodi Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer menyambut mereka bukan dengan jarak yang formal, melainkan dengan kehangatan yang langsung terasa. “Dosen-dosennya sangat ramah. Menjelaskan materi sangat detail banget. Kalau ada teman yang nggak ngerti, mereka jelasin ulang-ulang sampai teman kita tahu.” Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan: “Pokoknya terbaik lah menurut saya.”

Kerry punya sosok yang bahkan lebih istimewa dalam ceritanya selaku mahasiswa PGSD, sosok tersebut ialah Ibu Endang, dosen yang ia gambarkan bukan sebagai pengajar semata, melainkan seperti ibu sendiri. Suatu hari, tanpa diminta, tanpa pamrih, Ibu Endang datang membawa benang gulungan-gulungan benang warna-warni dan menyerahkannya kepada para mahasiswi Mappi. “Ini ada benang. Kalau yang tahu buat tas atau apa, bikin aja. Nanti dipromosikan, dijual, bisa jadi uang jajan.” Kerry dan teman-temannya membuat empat tas. Hasilnya bagus. Dan Ibu Endang yang memulai semuanya, bukan karena diwajibkan, bukan karena ada program, hanya karena ia peduli.

“Kita anggap dia sudah seperti ibu kita sendiri,” kata Kerry.

Fila bercerita salah satu dosen favoritnya dengan senyum yang sulit disembunyikan “Pak Ficky itu kayak orang tua yang paling baik, paling ramah. Sedikit-sedikit udah chat saya, ‘Fila, bagaimana anak-anak Mapi?’ Kalau ada apa-apa, langsung bilang ke Pak Ficky. Tanya, butuh apa? Langsung dikasih tahu.”

Di luar ruang kuliah, keduanya juga menemukan dunia lain yang tidak kalah berharga, keduanya beorganisasi. Kerry bergabung dengan Keluarga Mahasiswa Katolik dan dari sana ia belajar bahwa kampus bukan hanya tempat menyerap ilmu, melainkan tempat menempa karakter, membangun relasi, dan berlatih menjadi manusia yang lebih berani. Fila bahkan lebih aktif lagi, ia bergabung dengan Menwa, sedang menjalani seleksi Paskibra, mengikuti cabang olahraga, dan aktif di KMK. “Lumayan sih,” katanya merendah tapi matanya berbinar saat menyebutkan semua itu.

“Kuliah itu kita diajarkan untuk berpikir kritis,” kata Kerry, dengan keyakinan seseorang yang sudah merasakan sendiri manfaatnya. “Kadang ada orang lihat suatu berita yang belum pasti kebenarannya, tapi langsung mengambil kesimpulan. Padahal mereka nggak berpikir: ini apa, mengapa, dan bagaimana hal ini bisa terjadi. Kuliah mengajarkan kita untuk berpikir seperti itu.”

Di balik semua pengalaman yang menggembirakan itu, di balik dosen-dosen yang ramah, organisasi yang membuka cakrawala, dan perjalanan ke Bandung, Bogor, dan Monas bersama teman-teman, ada satu hal yang tidak pernah Kerry dan Fila lupakan, semua ini terjadi karena seseorang di Mappi memutuskan untuk peduli.

Program Seribu Sarjana Pemerintah Kabupaten Mappi bukan sekadar program beasiswa dalam pengertian administratif, sejumlah uang yang ditransfer setiap bulan, sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Bagi Kerry dan Fila, program ini adalah sebuah keajaiban yang nyata sesuatu yang mengubah seluruh lintasan hidup mereka dengan cara yang tidak akan pernah bisa mereka bayar kembali.

“Sangat membantu sekali, terkhususnya kita di Mappi,” kata Kerry. “Karena bisa dibilang kita punya mama atau bapak-bapak di sana yang mau anaknya sekolah jauh, tapi karena kekurangan dana, kekurangan biaya, itu tidak bisa terjadi. Program ini yang memungkinkan semuanya.” Ia diam sejenak, lalu berkata dengan nada yang lebih pelan: “Terlalu istimewa. Terlalu istimewa sekali.”

Fila berbicara tentang hal yang sama dengan cara yang tidak kalah menyentuh. Bagi perempuan yang pernah hampir menyerah, yang pernah berpikir bahwa setelah ayahnya tiada, tidak ada lagi jalan ke depan. program ini bukan hanya soal biaya kuliah. Ini soal kemungkinan yang tiba-tiba kembali ada. Ini soal sebuah pintu yang terbuka ketika hampir semua pintu terasa tertutup.

“Orang tua kita mereka nggak mungkin kasih biaya kita sampai sejauh ini,” ujarnya. “Dengan Bupati membuat program Seribu Sarjana ini, sangat memudahkan kita. Membuka wawasan kita agar kita bisa belajar di luar Papua, bisa memahami dunia di luar Papua itu bagaimana.”

“Bupati berpikir supaya anak-anak Papua, anak-anak Mappi itu bisa sama dengan anak-anak lain.”

Pertanyaan tentang masa depan membuat keduanya bersemangat dengan cara yang berbeda namun sama-sama menyentuh.

Kerry sudah tahu ia ingin kembali ke Mappi sebagai guru, bukan hanya guru yang datang dan mengajar lalu pulang, tapi guru yang benar-benar membenahi kurikulum yang lebih baik, kedisiplinan yang lebih kuat, dan pembatasan penggunaan gadget yang ia nilai sudah terlalu jauh masuk ke tangan anak-anak yang terlalu muda. “Kepemimpinan dan disiplin,” katanya tegas. “Itu yang perlu diperbaiki.”

Fila punya mimpi yang lebih teknis namun tidak kalah besar, ia ingin mendirikan semacam komunitas belajar berbasis teknologi di Mappi bukan hanya mengajar di kelas, tapi membuat program-program kreatif yang mempersiapkan anak-anak SMK untuk langsung terjun ke dunia kerja yang kini didominasi oleh teknologi dan Akal Imitasi (AI). “Supaya mereka bisa belajar cara mengoding, cara pakai aplikasi-aplikasi. Sekarang dunia menggunakan AI. Mereka harus siap.”

Untuk adik-adik mereka yang sekarang masih duduk di bangku SMA di Mappi yang mungkin belum tahu bahwa ada program yang bisa membawa mereka ke Jakarta, ke Jogja,  bahkan ke India.  Kerry dan Fila menitipkan pesan yang tidak perlu panjang untuk terasa dalam:

“Fokus belajar. Fokus di perkuliahan. Semester 1 dan 2, kejar nilai. Nanti semester 3 baru boleh aktif di komunitas karena komunitas itu penting untuk membangun relasi dan cara berpikir.” Kerry menarik napas sebentar. “Jangan sia-siakan kesempatan yang ada.”

Fila menambahkan dengan caranya sendiri cara seorang perempuan yang pernah hampir kehilangan arah, yang pernah merasakan betapa mudahnya menyerah dan betapa sulitnya bangkit kembali: “Belajar itu penting. Dari kita tidak tahu, kita menjadi tahu. Jangan lupa berdoa. Dan berterima kasihlah kepada Bapak dan Ibu yang sudah menyekolahkan kalian. Jangan sia-siakan pengorbanan mereka.”

Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026.

Di sebuah asrama kampus di Jakarta Timur, dua perempuan dari Mappi sedang menjalani hari-hari yang dulu hanya bisa mereka impikan dari tepian sungai. Kerry, yang dulu tidak punya ongkos ketinting, kini tengah mengejar IPK terbaik di kelasnya dan belajar seni musik dengan riang gembira. Fila, yang dulu hampir menyerah setelah kehilangan ayahnya, kini aktif di tiga organisasi sekaligus dan sudah merancang impian tentang lab komputer yang akan ia bawa pulang suatu hari nanti.

Mereka tidak datang ke sini dengan mudah. Tidak ada yang mudah dalam perjalanan mereka tidak ada ketinting yang selalu tersedia, tidak ada ayah yang selalu ada, tidak ada kepastian bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Tapi mereka datang. Mereka bertahan. Dan mereka tumbuh.

Di Mappi, ibu Kerry masih menjual sayur seikat Rp10.000 di pasar setiap pagi. Ibu Fila masih mengurus empat adik sendirian, dengan doa yang tidak pernah putus untuk dua anaknya yang merantau jauh. Mereka tidak bisa melihat langsung apa yang sedang terjadi di Jakarta. tidak bisa melihat bagaimana anak-anak mereka belajar, bertumbuh, berubah.

Tapi kalau mereka bisa melihat, kalau mereka bisa duduk di pojok ruang kuliah itu dan menyaksikan anak-anak mereka mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan dosen, tertawa bersama teman-teman dari pulau yang berbeda, berdebat tentang kode program dan kurikulum dan masa depan Mappi mungkin mereka akan menangis.

Bukan karena sedih. Tapi karena ternyata, mimpi itu benar-benar bisa sampai.

Bahkan dari tepian sungai yang paling jauh sekalipun.