Dari KIP-K ke Prestasi Gemilang di UNJ, Kisah Riki Anak Yatim yang Jadi Wisudawan Terbaik

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Bumikan Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

FT dan PLPBK UNJ Kolaborasi dengan Kemnaker RI Gelar Seminar Nasional Karier Profesional di Era Ekonomi Hijau

UNJ Kukuhkan Lulusan FIP dan FBS di Wisuda Sesi Pertama, Rektor Soroti Peran Pendidikan sebagai Kompas Kehidupan

FT UNJ Gelar Visiting Professor dengan Hadirkan Akademisi Universiti Kebangsaan Malaysia

UNJ Dukung Program SMA Unggul Garuda Baru melalui Pelaksanaan Tes Microteaching

FT UNJ dan Dinas Damkar DKI Jakarta Bahas Penguatan Kolaborasi

Jakarta, Humas UNJ – Riuh tepuk tangan memenuhi ruang prosesi Wisuda Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Tahun Akademik 2025/2026 Sesi 1 yang digelar pada 13 April 2026 di GOR UNJ. Di antara lautan toga dan senyum kebahagiaan, berdiri sosok Riki, mahasiswa Program Studi Pendidikan Masyarakat Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) angkatan 2022. Ia tak hanya berdiri sebagai seorang sarjana, tetapi sebagai simbol perjuangan tanpa henti. Dengan IPK nyaris sempurna, 3.95 Riki dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik dari FIP UNJ.

Namun, di balik angka IPK yang memukau dan toga kebanggaan yang ia kenakan, tersimpan sebuah narasi perjuangan hidup yang menggetarkan hati. Riki bukanlah pemuda yang lahir dengan fasilitas serba ada. Ia lahir dan dibesarkan di tengah keluarga yang sangat sederhana.

“Ibu saya seorang pedagang gorengan, dan ayah telah meninggal dunia ketika saya baru berusia 14 tahun,” kenang Riki dengan suara pelan namun tegar.

Kepergian sang ayah di usia yang masih sangat belia sempat memunculkan bayangan kelam akan masa depannya. Pertanyaan besar menggantung di benaknya: Mampukah Ibu yang hanya berjualan gorengan membiayai kuliahnya? Jawabannya tentu sangat berat. Namun, takdir berkata lain. Kehadiran program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) menjadi secercah harapan yang menyelamatkan mimpi-mimpinya.

Dukungan KIP-K tak disia-siakan oleh Riki. Kesempatan emas itu ia ubah menjadi bahan bakar perjuangan yang mengantarkannya menjadi sarjana pertama dalam sejarah keluarga besarnya.

Perjalanan Riki di bangku kuliah sama sekali tidak mudah. Ia harus menempuh perjalanan jauh dengan sistem pulang-pergi (PP) dari Bogor ke kampus UNJ di Rawamangun setiap hari. Di sisi lain, ia juga aktif berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Masyarakat (HIMAP Penmas).

Ujian terberat yang kerap ia rasakan justru datang dari kondisi finansial. Ada kalanya uang saku dari KIP-K yang ia terima habis sebelum jadwal pencairan berikutnya tiba. Namun, keterbatasan itu tidak pernah membuatnya menyerah.

“Kondisi itu mendorong saya untuk lebih disiplin dalam mengelola keuangan, memprioritaskan kebutuhan, dan belajar hidup lebih terencana. Dari keterbatasan tersebut, saya belajar bahwa setiap rintangan bisa diatasi dengan kemauan untuk beradaptasi, belajar dari pengalaman, dan terus memperbaiki diri,” ungkapnya mantap.

Ketangguhannya dalam mengelola waktu dan memprioritaskan kegiatan terbukti nyata. Pada semester lima, di tengah padatnya kuliah PP Bogor-Jakarta, ia berhasil lolos program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) di Bakrie Center Foundation, sebuah Non-Governmental Organization (NGO) yang berfokus pada edukasi dan lingkungan. Hebatnya, di tengah kesibukan magang dan organisasi tersebut, Riki tetap mampu meraih IP sempurna (4.00) pada semester tersebut.

Sebagai lulusan SMK jurusan Akuntansi, keputusannya mengambil Prodi Pendidikan Masyarakat sempat terasa sangat berseberangan. Namun, dari sanalah ia justru menemukan panggilan jiwanya untuk berkontribusi lebih dekat dengan masyarakat dan terlibat langsung dalam perubahan sosial.

Bagi Riki, pendidikan bukanlah proses yang hanya terjadi di ruang kelas yang kaku. Pendidikan harus menjadi alat pemberdayaan yang nyata. Melalui berbagai tugas lapangan, merancang program pelatihan, penyuluhan, hingga pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Balai KSDA Jakarta, Riki belajar memahami bahwa setiap masyarakat memiliki kebutuhan belajar yang berbeda dan harus didekati secara kontekstual.

Rintangan awal saat terjun ke masyarakat, seperti rasa canggung dalam berkomunikasi dan membangun kedekatan, perlahan ia atasi. Ia menyadari bahwa kemampuan berinteraksi tidak bisa didapatkan secara instan, melainkan melalui proses, refleksi, dan kemauan untuk terus belajar menyesuaikan diri dengan berbagai karakter masyarakat.

Puncak dari pembelajaran itu ia tuangkan dalam skripsinya. Memanfaatkan model evaluasi dari Donald Kirkpatrick yang ia pelajari di kelas, Riki mengevaluasi program pelatihan gaya hidup ramah lingkungan. Ia ingin membuktikan bahwa keberhasilan sebuah program pendidikan tidak cukup hanya diukur dari peningkatan pengetahuan peserta, tetapi pada outcome nyata: perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari yang berkelanjutan.

Hanya dalam waktu 3,5 tahun, Riki berhasil menyelesaikan seluruh beban studinya. Ditanya mengenai siapa sosok paling berjasa dalam pencapaiannya, Riki tak bisa menutupi rasa harunya.

“Dalam perjalanan ini, saya melihat bahwa kekuatan terbesar harus datang dari keteguhan dan dedikasi dalam diri sendiri. Namun di balik semua itu, Ibu saya adalah sumber kekuatan utama. Doa dan dukungan beliau tidak pernah putus,” ucap Riki dengan mata yang berkaca-kaca.

Bagi Riki, menjadi wisudawan terbaik bukanlah sekadar kebanggaan pribadi, melainkan sebuah bentuk tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Oleh karena itu, setelah lulus, Riki bertekad untuk langsung terjun berkarier di bidang pengembangan manusia dan pemberdayaan masyarakat. Ia ingin segera memberikan dampak nyata dan membahagiakan sang ibu yang selama ini berjuang tanpa lelah.

Menutup perbincangannya, Riki menitipkan pesan berharga bagi rekan-rekan mahasiswa akhir yang saat ini tengah berjuang menyelesaikan skripsi.

“Kuncinya ada tiga: niat, konsistensi, dan percaya pada kemampuan diri. Proses tugas akhir bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang mampu terus melangkah meskipun perlahan. Tetap yakin, karena kalian sudah sampai di tahap ini berarti kalian mampu,” pesannya memotivasi.