Dorong Pembelajaran Inklusif di Era Digital Global, FISH UNJ Hadirkan Pakar AI dan Robotika Taiwan

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ dan MIICA Hadirkan Ajang Inovasi…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Mahasiswa Kimia FMIPA UNJ Raih Platinum Award Internasional Lewat Kit Deteksi Cepat Bakteri Patogen Pangan di Ajang I3C dan IWC 2026

Kenalkan SDGs Lewat Permainan Edukatif, Siswa SMA Labschool Cibubur Menang di Kompetisi Internasional I3C dan IWC 2026

Board Game Edukasi Mental Health Karya Siswa SMA Labschool Jakarta Raih Platinum Award di Ajang Inovasi Internasional

I3C dan IWC 2026 Resmi Ditutup, UNJ dan MIICA Satukan Inovator Muda dalam Panggung Kreativitas Global

Mahasiswa Teknologi Pendidikan FIP UNJ Raih Dua Prestasi Nasional Kompetisi Bahasa Isyarat Indonesia

Jakarta, Humas UNJ – Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kembali mempertegas komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran berwawasan global melalui penyelenggaraan Eurasia International Course 2026 sesi ke-12 yang berlangsung secara daring pada 1 Juni 2026. Mengusung tema “Rethinking Digital Divide in Education: Pedagogical Accessibility and AI-Supported Learning Design”, kegiatan ini menghadirkan Assist. Prof. Darmawansah, akademisi Indonesia yang berkarier di Global Foreign Language Education Program, Providence University, Taichung City, Taiwan.

Kegiatan internasional ini menjadi forum strategis untuk membahas transformasi pendidikan di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Tidak hanya menyoroti pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), diskusi juga mengangkat isu penting mengenai kesenjangan digital, aksesibilitas pedagogis, serta desain pembelajaran yang inklusif dan berpusat pada kebutuhan peserta didik.

Dalam sesi interaktif, peserta diajak mengeksplorasi berbagai platform berbasis AI melalui aplikasi ClassPoint. Mahasiswa dan dosen berbagi pengalaman mengenai pemanfaatan teknologi seperti ChatGPT, Gemini, Perplexity, dan berbagai perangkat digital lainnya dalam mendukung proses belajar. Diskusi tersebut menegaskan bahwa keberhasilan penggunaan AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan pengguna dalam berpikir kritis, mengevaluasi informasi, serta memanfaatkan teknologi secara etis dan produktif.

Assist. Prof. Darmawansah menekankan bahwa AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas pembelajaran, namun tidak dapat menggantikan peran manusia dalam proses pendidikan.

“AI can improve performance, AI is good for learning, but AI will be nothing without collaboration with people,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia memperkenalkan konsep immersive learning melalui pemanfaatan teknologi virtual reality (VR) dan metaverse yang memungkinkan peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih interaktif, kolaboratif, dan kontekstual. Menurutnya, pendekatan ini dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih menarik sekaligus meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran.

Salah satu topik yang menarik perhatian peserta adalah pemanfaatan robot edukatif sebagai media pembelajaran inovatif. Dalam paparannya, Assist. Prof. Darmawansah memperkenalkan Kebbi Robot, sebuah robot interaktif yang mampu berkomunikasi dengan peserta didik melalui percakapan, kuis, permainan edukatif, hingga aktivitas storytelling. Teknologi ini dinilai mampu mendukung pengembangan keterampilan komunikasi, kreativitas, serta kemampuan berpikir komputasional sejak usia dini.

Ia menegaskan bahwa teknologi pendidikan tidak seharusnya dipandang sebagai sekadar tren, melainkan sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, pendidik perlu memiliki kemampuan untuk mengadaptasi dan memanfaatkan teknologi yang tersedia sesuai kebutuhan pembelajaran sehingga menghasilkan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan inklusif.

Menariknya, pada akhir sesi Assist. Prof. Darmawansah juga menyampaikan gagasan pengembangan robot edukatif berbasis budaya lokal Indonesia. Salah satu proyek yang tengah dikembangkan adalah pemanfaatan robot sebagai media digital storytelling yang mengangkat legenda Nusantara, seperti kisah Malin Kundang, sebagai bagian dari pembelajaran yang memadukan teknologi dengan pelestarian budaya.

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Riset, Inovasi, Sistem Informasi, dan Kerja Sama FISH UNJ, Elisabeth Nugrahaeni, menyampaikan bahwa Eurasia International Course merupakan bagian dari strategi FISH UNJ dalam memperluas wawasan global mahasiswa sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi transformasi digital di berbagai bidang kehidupan.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk berdialog langsung dengan akademisi internasional mengenai perkembangan teknologi pendidikan terkini. Pemanfaatan AI, virtual reality, hingga robot edukatif harus dipandang sebagai sarana untuk memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan sekadar mengikuti tren teknologi,” ujarnya.

Melalui penyelenggaraan Eurasia International Course 2026, FISH UNJ terus memperkuat perannya sebagai fakultas yang adaptif terhadap perkembangan global, mendorong kolaborasi lintas negara, serta menghadirkan inovasi pembelajaran yang inklusif, humanis, dan relevan dengan kebutuhan pendidikan masa depan.