Jakarta, Humas UNJ – Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) terus memperkuat implementasi pembelajaran kontekstual dan berbasis pengalaman melalui kolaborasi dengan berbagai lembaga strategis. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan “Pembelajaran Sejarah Berbasis Museum” yang diselenggarakan bersama Museum Kebaharian pada 2 Juni 2026 di Ruang 212 FISH UNJ.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam menghubungkan pembelajaran sejarah dengan sumber belajar autentik yang mampu memperkaya pengalaman akademik mahasiswa. Hadir dalam kegiatan tersebut Dekan FISH UNJ, Firdaus Wajdi, Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian Mis’ari, Kurator Museum Bahari Firman Faturohman sebagai narasumber kuliah tamu, para Wakil Dekan FISH UNJ, jajaran Koordinator Program Studi, serta mahasiswa Program Studi Sejarah.
Dalam sambutannya, Firdaus Wajdi menegaskan bahwa perguruan tinggi perlu menghadirkan ruang belajar yang lebih luas dan tidak terbatas pada ruang kelas. Menurutnya, kolaborasi dengan museum merupakan bagian penting dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang memungkinkan mahasiswa memperoleh pengalaman belajar langsung, memperluas jejaring profesional, serta memahami praktik pengelolaan sejarah dan budaya di dunia nyata.
“Mahasiswa perlu melihat museum tidak hanya sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi sebagai ruang edukasi, laboratorium pembelajaran, sumber riset, dan mitra strategis dalam pengembangan ilmu sejarah,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Unit Pengelola Museum Kebaharian, Mis’ari, menyampaikan apresiasi atas terjalinnya kerja sama dengan FISH UNJ. Ia berharap kemitraan ini dapat berkembang menjadi berbagai program kolaboratif yang berkelanjutan dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pelestarian warisan budaya maritim Indonesia.
Sebagai bentuk penguatan komitmen bersama, kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara FISH UNJ dan Museum Kebaharian. Penandatanganan tersebut menjadi tonggak awal kerja sama yang lebih luas dalam mendukung pengembangan pendidikan sejarah, kebudayaan, dan permuseuman. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata sebagai simbol kemitraan dan sinergi kedua institusi.
Pada sesi inti, peserta mengikuti kuliah tamu bertema “Merancang Pembelajaran Sejarah Berbasis Museum” yang disampaikan oleh Kurator Museum Bahari, Firman Faturohman. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa museum memiliki potensi besar sebagai sumber belajar yang mampu menghadirkan pengalaman sejarah secara lebih nyata, interaktif, dan reflektif.
Menurutnya, pembelajaran sejarah yang memanfaatkan museum memungkinkan peserta didik berinteraksi langsung dengan artefak, koleksi, dan narasi sejarah sehingga proses pembelajaran menjadi lebih hidup dan bermakna. Pendekatan ini juga dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kesadaran historis, serta apresiasi terhadap identitas budaya bangsa.
Kegiatan ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 4 (Quality Education) melalui penguatan pembelajaran yang inklusif dan kontekstual, SDGs 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui pelestarian warisan budaya dan identitas kebaharian Indonesia, serta SDGs 17 (Partnerships for the Goals) melalui kemitraan lintas institusi dalam memperkuat ekosistem pendidikan.
Dari perspektif Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi, kegiatan ini mendukung IKU 2 melalui pengalaman belajar mahasiswa di luar kampus, IKU 3 melalui keterlibatan dosen dalam aktivitas akademik bersama mitra eksternal, serta IKU 6 melalui penguatan kerja sama program studi dengan institusi yang relevan dengan pengembangan keilmuan dan kompetensi mahasiswa.
Melalui kolaborasi ini, FISH UNJ menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada pembelajaran berbasis pengalaman. Diharapkan kerja sama dengan Museum Kebaharian dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi penguatan pendidikan sejarah, pelestarian budaya, serta pembangunan generasi yang memiliki kesadaran historis dan kecintaan terhadap warisan maritim Indonesia.