Dosen FT UNJ Kembangkan Model Pembelajaran Deep Learning Berbasis LMS untuk Pendidikan Vokasi

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Dosen FT UNJ Kembangkan Model Pembelajaran…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

UNJ dan Batangas State University Perkuat Kolaborasi melalui Psychological First Aid dan Student Well-Being

UNJ Gelar Peringatan Upacara Hari Kesaktian Pancasila 2026

Kiprah dan Prestasi UNJ Mengharumkan Indonesia di Asian Games 2026

Delegasi UNJ Kunjungi KBRI Doha, Bahas Penguatan Kerja Sama Pendidikan dan Budaya dengan Qatar

Dosen FBS UNJ Raih IKAPI Award 2026, Buku “Gaza: Suatu Malam di Jakarta” Jadi Book of the Year

JAKARTA, Humas UNJ – Dosen Program Studi Pendidikan Tata Rias, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta (FT UNJ), mengembangkan model pembelajaran deep learning berbasis Learning Management System (LMS) untuk mendukung pembelajaran digital pada pendidikan vokasi pada Juni – Juli 2026.

Model tersebut dikembangkan melalui penelitian pada mata kuliah “Perawatan dan Kesehatan Rambut”. Pengembangan ini diarahkan untuk memadukan pembelajaran praktik dengan teknologi digital sehingga mahasiswa dapat mengakses materi, mengikuti aktivitas pembelajaran, berdiskusi, mengerjakan tugas, hingga mengikuti evaluasi melalui satu platform pembelajaran.

Penelitian diketuai Tri Handayani dengan anggota Aniesa Puspa Arum, Dwi Atmanto, dan Eti Herawati. Sejumlah mahasiswa, yakni Syahnas Safira, Hana Zakiyah Putri, Essa Aurora Noornisa, dan Synthia Naurah Hulwah, turut dilibatkan dalam penelitian sebagai bagian dari penerapan pembelajaran berbasis riset atau research-based learning.

Tri Handayani mengatakan penelitian tersebut berangkat dari kondisi pembelajaran praktik yang masih banyak menggunakan metode konvensional. Di sisi lain, pemanfaatan LMS dalam pembelajaran vokasi masih dapat dikembangkan agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan materi, tetapi juga menjadi ruang belajar yang aktif dan terintegrasi.

“Model pembelajaran yang kami kembangkan telah melalui proses analisis kebutuhan, pengembangan, dan validasi oleh para ahli sehingga dinyatakan layak digunakan sebagai pendukung pembelajaran. Kami berharap inovasi ini dapat membantu dosen dan mahasiswa dalam menciptakan proses pembelajaran yang lebih aktif, mandiri, dan bermakna,” ujar Tri.

Model pembelajaran tersebut dikembangkan menggunakan Moodle Cloud dengan mengintegrasikan sejumlah komponen pembelajaran digital. Materi disusun dalam bentuk e-modul dan video tutorial yang dilengkapi aktivitas pembelajaran, forum diskusi, penugasan, serta evaluasi.

Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa memiliki kesempatan untuk mempelajari materi secara lebih fleksibel, baik ketika mengikuti pembelajaran di kelas maupun saat belajar secara mandiri di luar kelas.

Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi lima tahapan, yakni Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Tahapan tersebut digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran, merancang model, mengembangkan produk, serta melakukan validasi terhadap perangkat pembelajaran yang dihasilkan.

Hasil penelitian menunjukkan model pembelajaran deep learning berbasis LMS beserta perangkat pendukungnya telah berhasil dikembangkan dan dinyatakan layak berdasarkan validasi ahli materi, ahli media, dan ahli desain pembelajaran.

Selain model pembelajaran, penelitian tersebut menghasilkan sejumlah luaran. Di antaranya e-modul digital yang telah memperoleh sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI), video profil produk, poster penelitian, artikel pada media daring, serta artikel ilmiah yang dipersiapkan untuk publikasi pada jurnal nasional terakreditasi.

Tri mengatakan penelitian ini menjadi tahap awal untuk mengembangkan pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran vokasi tata rias dan kecantikan. Namun, pengembangan produk tersebut masih perlu dilanjutkan melalui pengujian di lingkungan pembelajaran yang sebenarnya.

“Penelitian lanjutan diperlukan untuk menguji efektivitas model dalam meningkatkan hasil belajar, keterampilan praktik, kemampuan berpikir kritis, dan kemandirian belajar mahasiswa,” katanya.

Menurut dia, implementasi dan pengujian lebih lanjut diperlukan untuk memperoleh bukti empiris mengenai efektivitas model sebelum diterapkan secara lebih luas. Pengembangan tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif pembelajaran digital yang sesuai dengan karakter pendidikan vokasi, khususnya pada bida