BANDUNG, Humas UNJ – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mendorong mahasiswa asal Kabupaten Mappi, Papua Selatan, untuk membangun karakter yang humanis, adaptif, tangguh, dan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan.
Hal itu disampaikan Kepala Subdirektorat Pengembangan Karakter, Minat, Bakat, Penalaran, dan Prestasi Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni UNJ, Slamet Sukriadi, saat menutup kegiatan Pendidikan Karakter dan Bela Negara bagi mahasiswa UNJ asal Kabupaten Mappi.
Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, 7-9 September 2026, di Balai Pendidikan dan Pelatihan Pembangunan Karakter Sumber Daya Manusia Transportasi (BP3KSDMT), Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Slamet mengatakan, pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik. Mahasiswa juga perlu memiliki kemampuan beradaptasi, bekerja sama, peduli terhadap sesama, serta tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan.
“Selama tiga hari kita melaksanakan sebuah program yang sangat luar biasa, dibantu instruktur-instruktur yang luar biasa. Pendidikan karakter dan bela negara ini menjadi pengalaman yang sangat baik bagi mahasiswi Universitas Negeri Jakarta yang berasal dari Kabupaten Mappi,” ujar Slamet.
Menurut Slamet, mahasiswa perlu memiliki karakter yang dapat menjadi bekal selama menjalani perkuliahan maupun ketika terjun ke masyarakat. Salah satunya adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan perkembangan zaman.
Ia menekankan empat karakter yang perlu dikembangkan mahasiswa, yakni humanis, adaptif, tangguh, dan inspiratif.
Karakter humanis, kata dia, dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap diri sendiri dan orang lain, sikap saling menghargai, serta kemampuan membangun hubungan yang baik dengan lingkungan.

Sementara karakter adaptif dibutuhkan mahasiswa untuk menghadapi perubahan, termasuk perkembangan teknologi dan tuntutan zaman. Kemampuan tersebut dinilai penting bagi mahasiswa asal Mappi yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan kehidupan dan pendidikan di Jakarta.
“Mahasiswa UNJ harus mampu beradaptasi di keadaan apa pun, beradaptasi dengan teknologi dan beradaptasi dengan zaman,” tuturnya.
Selain adaptif, Slamet meminta mahasiswa tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan. Menurut dia, ketangguhan perlu dibangun melalui kedisiplinan, kemauan mengikuti berbagai aktivitas, dan kemampuan menghadapi situasi yang tidak selalu sesuai dengan harapan.
Ia berharap karakter tersebut dapat membuat mahasiswa tidak hanya berkembang untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Dengan kebaikan yang kalian berikan, dengan kepedulian, rasa kemanusiaan, sikap tangguh, dan sikap adaptif, maka Anda adalah mahasiswa yang berdampak dan menjadi inspirasi bagi orang lain,” ujarnya.
Sementara itu Kepala BP3KSDMT, Eko Sudarmanto mengatakan pembangunan karakter merupakan bagian penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia. Menurut dia, kemampuan teknis perlu diimbangi dengan karakter yang baik.
Eko menjelaskan, BP3KSDMT memberikan perhatian pada pengembangan kemampuan nonteknis atau soft skills. Kemampuan teknis yang tinggi, kata dia, tidak akan cukup jika tidak dibarengi karakter yang kuat.
“Sepintar apa pun kita, kalau karakternya tidak dibangun, itu lebih berbahaya. Kalau kemampuan teknis kurang, mungkin teman bisa membantu. Tetapi kalau karakter yang kurang, ini berbahaya,” ujar Eko.
Ia berharap kegiatan Pendidikan Karakter dan Bela Negara yang digelar bersama UNJ dapat menjadi awal kerja sama yang lebih luas dalam pengembangan sumber daya manusia.
“Ke depan, ketika UNJ membutuhkan tempat atau model kegiatan, insyaallah kami siap berkolaborasi. Mudah-mudahan ini dapat terus terlaksana,” katanya.
Kegiatan Pendidikan Karakter dan Bela Negara bagi mahasiswa UNJ asal Kabupaten Mappi kemudian ditutup setelah berlangsung selama tiga hari. Program tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa dalam menjalani kehidupan akademik sekaligus menghadapi lingkungan sosial yang lebih luas.