Kiprah Perjuangan Prof. Liliana Muliastuti Dalam Menduniakan Bahasa Indonesia Lewat BIPA

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Tingkatkan Strategi Bisnis Global, FEB UNJ…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Perkuat Mutu dan Daya Saing Global, UNJ Pertahankan Status Akreditasi Unggul hingga 2027

Trilogi Pesan Rektor UNJ Saat Pelantikan OPMAWA dan ORMAWA

Perkuat Daya Saing Lulusan, FIKK UNJ Gelar Pendampingan Penyusunan Skema Sertifikasi Profesi

UNJ dan BRI Resmikan Kantor Layanan di Kampus serta Serah Terima CSR untuk Dukung Mobilitas Sivitas Akademika

UNJ Perkuat Kompetensi Dosen PPG melalui Pelatihan PEKERTI

Jakarta, Humas UNJ — Di balik setiap kata yang dipelajari oleh pemelajar asing, tersimpan kerja senyap seorang akademisi yang teguh berjuang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bagian dari bahasa dunia. Ia adalah Prof. Liliana Muliastuti, Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (FBS UNJ), tokoh yang selama lebih dari dua dekade menapaki jalan sunyi untuk mempopulerkan bahasa Indonesia lewat program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).

Dalam sebuah forum daring pada 26 Juni 2025, Prof. Liliana kembali menegaskan keyakinannya bahwa bahasa Indonesia layak menjadi bahasa internasional. Pernyataan itu bukan sekadar mimpi, tetapi panggilan jiwa yang telah ia jalani dalam kiprah panjangnya sebagai pendidik, perumus kebijakan, dan penggerak organisasi profesi pengajar BIPA. Semangatnya tak pernah surut meski harus menghadapi gelombang tantangan, baik dari luar negeri maupun dari sikap apatis sebagian masyarakat dalam negeri terhadap bahasanya sendiri.

Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2009, penginternasionalan bahasa Indonesia adalah amanat negara. Namun dalam praktiknya, jalan itu penuh liku. Di Australia, misalnya, minat mempelajari bahasa Indonesia menurun drastis. Berdasarkan laporan theconversation.com, dari 14.000 siswa di tingkat sekolah dasar, hanya sekitar 350 yang melanjutkan ke tingkat akhir SMA. Fenomena ini mencerminkan tantangan nyata dalam mempertahankan eksistensi bahasa Indonesia di ruang akademik global.

Namun, di tengah situasi itu, Prof. Liliana tak berpangku tangan. Saat menjabat Dekan FBS UNJ, ia memprakarsai kerja sama strategis dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, termasuk program “Goes to School” yang mengirim mahasiswa UNJ ke sekolah-sekolah di Australia untuk praktik mengajar bahasa Indonesia. Langkah kecil namun bermakna itu menjadi jembatan diplomasi budaya sekaligus simbol ketekunan dalam menyemai cinta pada bahasa ibu bangsa ini di tanah asing.

Pengalaman panjang Prof. Liliana dalam dunia BIPA dimulai sejak 1999 ketika ia mengajar peneliti Korea Selatan di UNJ. Tak lama kemudian, ia diundang menjadi pengajar Bahasa Indonesia di Korea Selatan pada 2000–2002. Sejak saat itu, namanya tak bisa dipisahkan dari gerakan internasionalisasi bahasa Indonesia. Ia bahkan dipercaya menjadi penanggung jawab program BIPA UNJ dan ikut merancang arah kebijakan BIPA nasional bersama Badan Bahasa.

Disertasinya yang mengkaji kurikulum BIPA berbasis Common European Framework of Reference for Languages (CEFR) menjadi pijakan penting dalam penyusunan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) bagi pemelajar BIPA yang kini berlaku secara nasional dan internasional. Tak berhenti di sana, Prof. Liliana juga menjadi aktor utama dalam penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) untuk bidang pengajaran BIPA. Semua itu adalah fondasi kokoh bagi keberlanjutan dan kualitas pendidikan BIPA di masa depan.

Kepemimpinan Prof. Liliana dalam organisasi profesi juga tak terbantahkan. Ia terpilih sebagai Ketua Umum Afiliasi Pengajar dan Pegiat BIPA (APPBIPA) sejak 2015 hingga dua periode, membawa organisasi tersebut menjadi kekuatan strategis dengan 30 cabang di Indonesia dan 6 cabang luar negeri, seperti Jepang, Jerman, Timor Leste, Korea Selatan, Thailand, dan Inggris. Di bawah kepemimpinannya, APPBIPA menjadi simpul jejaring internasional yang menyatukan semangat memuliakan bahasa Indonesia.

Namun perjuangan belum usai. Dalam pandangannya, tantangan BIPA ke depan adalah bagaimana menjadikannya inklusif. Belum ada panduan yang secara khusus menjangkau pemelajar BIPA dari kalangan disabilitas maupun kelompok minoritas seperti pengungsi. “Padahal inklusi bukan sekadar menyangkut disabilitas, tetapi juga gender, usia, kemiskinan, agama, bahasa, status migran, dan lainnya,” tegasnya, merujuk pada Komentar Umum No. 4 tahun 2016 dari Konvensi PBB tentang Hak Disabilitas.

Prof. Liliana mengajak agar penyusunan kurikulum dan bahan ajar BIPA melibatkan pakar dari bidang Psikologi dan Pendidikan Luar Biasa. Tujuannya jelas, yaitu memastikan semua pemelajar, apa pun latar belakangnya perlu mendapatkan hak belajar yang adil dan bermartabat. Bagi Prof. Liliana, BIPA bukan sekadar program pengajaran bahasa, tetapi ruang dialog kemanusiaan, jembatan antarbangsa, dan cermin kesetaraan.

Kabar baiknya, pada 20 November 2023, bahasa Indonesia resmi diakui sebagai bahasa untuk Konferensi Umum UNESCO. Sebuah tonggak sejarah yang menjadi penanda bahwa perjuangan ini mulai menuai hasil. Namun di balik pencapaian itu, kita tidak boleh lupa akan para penggerak senyap yang terus menjaga nyala api perjuangan ini, salah satunya adalah Prof. Liliana Muliastuti.

Perjuangan Prof. Liliana bukan sekadar cerita tentang mengajar bahasa. Ini adalah narasi tentang identitas, tentang diplomasi budaya, dan tentang cinta yang tak pernah padam pada negeri dan bahasanya. Di tangan para pejuang seperti dirinya, bahasa Indonesia tidak hanya dituturkan, tetapi dimuliakan hingga kelak berdiri tegak sejajar dengan bahasa-bahasa besar dunia.