Jakarta – Humas UNJ. Dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1447 Hijriah, Dewan Kemakmuran Masjid Nurul Irfan (DKM MNI) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan kajian keislaman bertema “Memaknai Hijrah dalam Konteks Kekinian di Era Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)”. Kegiatan ini berlangsung di Aula Bung Hatta, Lantai 2, dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Universitas Negeri Jakarta serta Zoom Live Streaming, sehingga dapat diakses oleh sivitas akademika secara luas.
Kajian ini menghadirkan Prof. Hermawan Kresno Diponogoro, Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI), sebagai narasumber. Ia membawakan materi bertajuk “Memaknai Hijrah di Era Abundance Knowledge” yang menyoroti pentingnya transformasi diri dalam menghadapi era digital yang penuh dengan informasi.

Ketua DKM Nurul Irfan, Prof. Asep Supena, menyampaikan bahwa meskipun kegiatan ini tidak dilaksanakan tepat pada 1 Muharam, semangat spiritual bulan Muharam tetap terasa kuat di lingkungan kampus.
“Di bulan ini terdapat banyak peristiwa agung dalam sejarah Islam, salah satunya adalah hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah,” ujar Prof. Asep.
Ia mengajak seluruh sivitas akademika UNJ untuk menjadikan peristiwa hijrah sebagai inspirasi dalam menyambut tahun baru Hijriah dengan semangat dan tekad baru, baik dalam pengembangan akademik maupun non-akademik.
Sekretaris Universitas, Prof. Suyono, turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan tantangan zaman, khususnya dalam konteks perkembangan teknologi informasi yang semakin memengaruhi kehidupan umat Islam, termasuk dalam menjalankan ibadah dan meningkatkan kualitas diri.

“Hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan fisik dari Mekkah ke Madinah, tetapi juga sebagai perubahan menuju hal yang lebih baik. Dalam konteks UNJ, ini relevan dengan transformasi institusi dari PTN-BLU menjadi PTN-BH,” jelas Prof. Suyono.
Ia juga menekankan bahwa momentum Tahun Baru Islam 1447 Hijriah dapat menjadi titik tolak untuk berhijrah secara pribadi menuju pribadi yang lebih unggul, produktif, dan bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara.

Dalam sesi pemaparan materi, Prof. Hermawan menegaskan bahwa hijrah sejatinya merupakan proses transformasi diri menuju kebaikan. Ia mencontohkan peristiwa turunnya Nabi Adam dari surga ke bumi sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pertumbuhan, sebagaimana bayi yang lahir ke dunia dengan potensi yang harus dikembangkan seiring waktu.
“Hijrah adalah panggilan untuk terus belajar dan bertumbuh. Dari kegelapan menuju cahaya. Dari ketidaktahuan menuju pengetahuan,” tutup Prof. Hermawan.
