FBS UNJ dan Buya Hamka Center Hidupkan Spirit Keteladanan Lewat Sastra dan Pemikiran Buya Hamka

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. SPs UNJ Integrasikan Nilai Bela Negara…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

UNJ dan Kedutaaan Besar Kosta Rika Gagas Kuliah Umum Bedah Sejarah Kosta Rika

Prodi D4 MPLM FT, S2 PL, S2 ML, dan S3 PKLH SPs UNJ Bangun Jejaring Global Berbasis SDGs bersama MUST Malaysia

FT UNJ dan PT. Sefas Pelindotama selenggarakan Kuliah Umum dan Career Coaching “SEFAS Goes to Campus”

Dosen FT UNJ Perkuat Kolaborasi Internasional dan Dukung SDGs melalui Pemanfaatan Jilbab Bekas Menjadi Produk Kreatif di Malaysia

UNJ Raih Penghargaan Bergengsi dari KONI Pusat pada Rakernas 2026, Perkuat Posisi sebagai Kampus Rujukan Ilmu Keolahragaan Nasional

Jakarta, Humas UNJ – Pemikiran dan karya-karya Buya Hamka kembali menjadi sorotan dalam sebuah diskusi yang digagas oleh Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNJ bersama Buya Hamka Center melalui kegiatan Sastra Goes To campus bertema “Meneladani Jejak Pemikiran dan Karya Buya Hamka” bertempat di Aula Latief Hendraningrat, Kampus UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur pada 20 Mei 2026.

Dalam Sambutannya Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FBS UNJ Yusi Asnidar mengatakan bahwa gagasan diskusi dan kerja sama ini sebagai komitmen nyata memperluas ruang belajar mahasiswa di luar ruang kelas. Ia juga turut mengapresiasi kerja keras seluruh pihak atas terselenggaranya kegiatan ini.

“Dengan jumlah peserta sebanyak 304 peserta menandakan bahwa budaya diskusi di FBS UNJ masih kuat,” pungkasnya.

Yusi Asnidar juga berharap diskusi ini menjadi ruang yang konstruktif untuk menumbuhkan sikap kritis mahasiswa terutama dalam meneladani nilai kehidupan dari sosok Buya Hamka lewat berbagai karya-karyanya.

Pada kesempatan ini juga turut hadir para pembahas karya Buya hamka diantaranya Helvy Tiana Rosa, Sastrawan dan dosen Program Studi Sastra Indonesia, FBS UNJ, Abdul Hadi Hamka, Direktur Buya Hamka Center sekaligus cucu dari Buya hamka, serta Ustd. Erick Yusuf, Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan MUI Pusat.

Pada kesempatan itu Helvy Tiana Rosa memberi pemaparan bertema “Meneladani Jejak Pemikiran Buya Hamka: Ulama, Sastrawan, Pemikir, dan Pahlawan Nasional Indonesia” mengatakan bahwa Buya Hamka sebagai sosok Istimewa yang belum memiliki penggantinya.

Sebelum menyampaikan paparannya, Helvy juga membawakan puisi berjudul “Pertemuan dengan Buya Hamka”. Dalam puisinya itu Helvy mencoba memvisualisasikan pandangan Buya Hamka melihat kebengisan pembantaian Palestina. Hal ini mendapat antusias positif dari para penonton dengan sorak-sorai tepuk tangan.

Menurutnya Buya Hamka adalah sosok multi dimensi dengan berbagai keahlian baik sebagai jurnalis, filsuf, politisi, ulama, sastrawan, maupun seorang pendidik. “Hanya lulusan kelas 2 SD namun berhasil meraih anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar Kairo dan UKM Malaysia.

Ia menambahkan bahwa terdapat nilai penting yang dapat diteladani dari sosok Buya Hamka melalui kisah mundurnya Buya Hamka dari jabatan Ketua MUI. Mundurnya Buya Hamka adalah bentuk tanggung jawab dari integritasnya, ungkap Helvy.
“Padahal Buya Hamka sebagai ketua MUI pertama dan tidak meminta gaji dan siap mundur apa bila ada ketidaksesuaian dengan Pemerintah,” katanya.

Helvy menambahkan bahwa kunci penting dari nilai karya sastranya ada pada perpaduan tradisi melayu klasik, kearifan Minangkabau, dan kepekaan religius menghasilkan suara sastrawi yang tidak dimiliki oleh sastrawan Indonesia lain pada masanya.

Menurutnya Buya hamka adalah pembaca yang tidak sekedar menikmati karya sastra dari negeri Timur tetapi juga Barat, dan banyak menulis tafsir semasa di penjara pada masa Orde lama.

Helvy juga mengajak para peserta untuk mempelajari dan meneladani kisah hidup Buya Hamka melalui tiga kisah penting diantaranya menulis tafsir di penjara era Soekarno, mengimami salat jenazah Soekarno dan menolak digaji sebagai ketua MUI.

Dalam aspek sastra kata Helvy gaya penulisan Buya Hamka mengandung gaya melankolis, metafora alam, pepatah minang kabau, bahasa beralun melayu-minang, kritik sosial, dan religiusitas yang tidak mendikte. Ini adalah ciri karya sastra islam popular.

Pada kesempatan itu dirinya juga menyerukan mahasiswa untuk meneladani 6 prinsip penting yang perlu diketahui diantaranya cinta ilmu dan otodidak, integritas dan berani mundur, produktivitas dan disiplin, keberanian intelektual, hidup bersahaja, moderasi dan inklusif.

“Sampai saat ini pemikiran Buya Hamka masih dianggap relevan terutama dalam menghadapi krisis spiritual modern dan kita perlu meneladani bukan sekedar mengenang,” katanya.

Dalam pemaparannya, Abdul Hadi Hamka menjelaskan bahwa sosok Buya Hamka tidak lahir begitu saja. Sejak kecil, Buya Hamka tumbuh dalam lingkungan keluarga terpandang dan religius, dengan ayah seorang ulama besar serta ibu yang memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan karakter dirinya.

Namun, Buya Hamka dikenal sebagai anak yang tidak menyukai pola belajar monoton dan “sulit diatur”. Ketertarikannya terhadap dunia membaca justru menjadi pintu lahirnya bakat menulis yang kemudian membesarkan namanya.

“Sepulang dari ibadah haji, beliau mulai menulis artikel di Medan dan perlahan membangun karya sastra yang dikenal luas hingga sekarang,” ujar Abdul Hadi.

Ia menambahkan, karya-karya Buya Hamka memiliki kekhasan berupa perpaduan sastra dan nilai dakwah Islam. Meski banyak ditulis dalam bentuk novel dan nonfiksi, karya tersebut tetap sarat pesan moral, sosial, dan keagamaan.

Novel seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah disebut menjadi contoh bagaimana Buya Hamka menyampaikan dakwah secara halus melalui sastra.

Menurut Abdul Hadi, karya-karya Buya Hamka juga kerap mengangkat persoalan sosial seperti pertentangan adat, keadilan, kesetaraan, hingga kritik terhadap feodalisme. Meski sempat menuai kritik dari sejumlah kalangan, Buya Hamka meyakini bahwa dakwah harus mampu menyentuh sisi terdalam kehidupan masyarakat.

Selain dikenal sebagai ulama dan sastrawan, Buya Hamka juga disebut memiliki jiwa entrepreneur dan pemikir visioner. Salah satu jejaknya terlihat melalui pengembangan Masjid Agung Al-Azhar yang dibangun menjadi pusat pendidikan dan dakwah Islam melalui kuliah subuh serta lembaga pendidikan berbasis Islam.

Abdul Hadi juga memperkenalkan sejumlah buku karya Buya Hamka yang berkaitan dengan pendidikan, perjalanan hidup, hingga pemikirannya mengenai perkembangan dunia Islam. Ia turut menyinggung kiprah Buya Hamka saat berada di Malaysia setelah keluar dari tahanan Orde Lama, termasuk aktivitas dakwah di Sabah dan Sarawak dengan mendatangkan dai dari Medan. Beberapa karya Buya Hamka di Malaysia bahkan menjadi best seller.

Ia berharap generasi muda, khususnya mahasiswa, dapat meneladani nilai-nilai perjuangan dan pemikiran Buya Hamka sebagai bekal menjadi penerus bangsa.

Sementara itu, Erick Yusuf mengungkapkan pengalamannya dalam mengawal produksi film Buya Hamka bersama sastrawan Zhaenab Zhelvy. Ia menyebut film pertama mendapat apresiasi besar dengan lebih dari 1,3 juta penonton, meski film kedua memperoleh jumlah penonton yang lebih rendah dibanding biaya produksi yang besar.

Melalui forum tersebut, Erick juga mengajak mahasiswa untuk menonton dan meneladani pesan moral dalam film maupun karya sastra Buya Hamka. Menurutnya, generasi saat ini menghadapi krisis makna di tengah derasnya arus informasi dan media sosial.

“Generasi sekarang kaya informasi tetapi miskin makna. Buya Hamka menulis bukan untuk membuat manusia terpukau, tetapi agar manusia kembali mengenal dirinya,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa karya sastra Buya Hamka banyak memuat kritik sosial terhadap kesombongan, feodalisme, dan lunturnya akhlak dalam masyarakat. Sastra, menurutnya, bukan sekadar hiburan, tetapi jalan membentuk akhlak dan peradaban.

Erick juga menyoroti pentingnya sastra Islam di lingkungan kampus saat ini. Menurutnya, peradaban tidak runtuh karena perkembangan teknologi, melainkan karena hilangnya manusia yang memiliki nurani.

Dalam kesempatan itu, Erick turut memaparkan kajiannya mengenai konsep “Marhamah” dalam Tafsir Al-Azhar yang menjadi tema disertasinya. Ia menjelaskan bahwa Buya Hamka menawarkan konsep “Marhaimisme”, yakni pembangunan ekonomi berbasis kasih sayang dan kemanusiaan sebagai respons terhadap konsep Marhaenisme.

Menutup diskusi, Erick mengingatkan mahasiswa untuk waspada terhadap “perbudakan pikiran” di era media sosial. Ia menegaskan bahwa karya-karya Buya Hamka mengajarkan bahwa sastra bukan hanya untuk dibaca, melainkan menjadi penuntun dalam memandang kehidupan secara lebih bermakna.