Era AI Menuntut Pendidikan Kembali pada Esensi Kemanusiaan

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. Kiprah Aldio Yofanda, Alumni Teknologi Pendidikan…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Mengenal Sandi Andana, Atlet Taekwondo UNJ yang Terus Gelorakan Prestasi

Tim Peneliti FT UNJ Serahkan Inovasi Media Pelatihan Pengelasan SMAW bagi Disabilitas ke Sentra Terpadu Inten Soewono

UNJ Resmi Tutup PKKMB 2026, Mahasiswa Baru Didorong Berkarya dan Berdampak

UNJ Perkuat Kolaborasi Perguruan Tinggi dalam Pengembangan MKWK Nasional

UNJ Kembangkan Pembelajaran MKWK Pancasila Sesuai Bidang Keilmuan Mahasiswa

JAKARTA, Humas UNJ – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mendorong perubahan besar dalam dunia pendidikan. Sistem pendidikan yang selama ini banyak menekankan pengetahuan faktual dan pembelajaran terstandar dinilai perlu beradaptasi agar mampu menyiapkan peserta didik menghadapi perubahan dunia kerja sekaligus mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan.

Hal tersebut disampaikan Prof. Zhang Yu dari Tsinghua University dalam pemaparannya bertajuk “Openness and Persistence: Future Education in The Age of AI” secara daring pada Seminar dan Lokakarya (Semiloka) Guru dan Pendidikan Guru Indonesia bertema “Menata Ulang Pendidikan Guru di Indonesia” di Ballroom Lantai 8 Hotel Naraya UTC UNJ, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Prof. Zhang, sistem pendidikan selama sekitar satu abad masih banyak mengikuti pola pembelajaran terstandar yang menyerupai sistem produksi pada era Revolusi Industri. Pola tersebut semakin perlu diubah seiring perkembangan AI yang mengambil alih sejumlah pekerjaan berbasis pemrograman, bahasa, dan matematika.

Mengutip World Economic Forum, ia menyebut lebih dari 39 persen keterampilan yang dibutuhkan pasar kerja di masa depan akan mengalami perubahan. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya membekali peserta didik dengan pengetahuan faktual, tetapi juga harus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, imajinasi, pengambilan keputusan, kreativitas, dan kemampuan memahami proses berpikir.

“Pengetahuan harus divalidasi oleh manusia, bukan oleh mesin,” tegas Prof. Zhang.

Ia menilai pendidikan perlu mengarahkan kurikulum perguruan tinggi pada pengetahuan konseptual, prosedural, dan metakognitif. Interaksi antarmanusia dan pembentukan konsensus sosial juga tetap menjadi bagian penting karena pendidikan tidak dapat sepenuhnya bergantung pada interaksi manusia dengan mesin.

Di sisi lain, AI memiliki peluang besar untuk mendukung pembelajaran yang lebih personal, khususnya dalam mengatasi keterbatasan waktu guru dan kebutuhan belajar yang beragam. Tim Prof. Zhang mengembangkan educational edge AI, salah satunya melalui platform MICE (Multi-Agent Interactive Classroom) yang menyediakan sejumlah agen AI untuk mendukung proses pembelajaran.

Dalam platform tersebut, guru tetap berperan sebagai human-in-the-loop, sementara siswa dapat mengatur kecepatan, tingkat kesulitan, dan pola interaksi pembelajaran. Pengembangan MICE mengintegrasikan sejumlah teori pendidikan, seperti konstruktivisme sosial, penilaian formatif, teori beban kognitif, dan mastery learning.

Eksperimen terhadap sekitar 200 mahasiswa di Beijing menunjukkan bahwa pembelajaran dengan guru AI memberikan tingkat keterlibatan yang relatif serupa dengan pembelajaran tatap muka maupun video daring. Namun, mahasiswa yang menggunakan MICE memiliki kendali belajar lebih tinggi, melakukan lebih banyak interaksi dan menerima lebih banyak umpan balik, serta dapat menyelesaikan pembelajaran dalam waktu lebih singkat.

Meski demikian, Prof. Zhang menegaskan bahwa keberhasilan AI dalam pendidikan tidak semata-mata diukur dari kemampuan teknologi meningkatkan hasil tugas atau kinerja siswa. AI harus dirancang untuk membantu peserta didik belajar secara mendalam, mengevaluasi informasi, menantang jawaban mesin, serta mengembangkan tanggung jawab dan kemampuan berpikir mandiri.

Menurut Prof. Zhang, perkembangan AI justru menjadi momentum bagi pendidikan untuk kembali pada esensinya, yakni membentuk manusia yang mampu menemukan makna kehidupan, membangun karakter, memahami dunia, serta memiliki kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, teknologi perlu ditempatkan sebagai alat pendukung, sementara manusia tetap menjadi pusat pendidikan.