Perkuat SDGs dan Ekonomi Kreatif Desa, Dosen FT UNJ Kembangkan Cenderamata Berbasis Ramah Lingkungan di Desa Wisata Sukaharja

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ dan MIICA Hadirkan Ajang Inovasi…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Mahasiswa Kimia FMIPA UNJ Raih Platinum Award Internasional Lewat Kit Deteksi Cepat Bakteri Patogen Pangan di Ajang I3C dan IWC 2026

Kenalkan SDGs Lewat Permainan Edukatif, Siswa SMA Labschool Cibubur Menang di Kompetisi Internasional I3C dan IWC 2026

Board Game Edukasi Mental Health Karya Siswa SMA Labschool Jakarta Raih Platinum Award di Ajang Inovasi Internasional

I3C dan IWC 2026 Resmi Ditutup, UNJ dan MIICA Satukan Inovator Muda dalam Panggung Kreativitas Global

Mahasiswa Teknologi Pendidikan FIP UNJ Raih Dua Prestasi Nasional Kompetisi Bahasa Isyarat Indonesia

Bogor, Humas UNJ – Universitas Negeri Jakarta (UNJ) terus memperkuat perannya dalam mendukung pembangunan desa berkelanjutan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat Wilayah Binaan Universitas. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan bertajuk “Model Pengembangan Cenderamata Berkelanjutan Berbasis Limbah Kayu dan Bambu untuk Penguatan Identitas Desa Wisata Sukaharja” yang dilaksanakan pada Rabu, 3 Juni 2026, di Desa Sukaharja, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor.

Kegiatan yang diprakarsai oleh dosen Fakultas Teknik (FT) UNJ, Jafar Sodik bersama Prof. Wesnina, menjadi bagian dari upaya penguatan identitas desa wisata melalui pengembangan produk kreatif berbasis sumber daya lokal yang ramah lingkungan, bernilai ekonomi, dan berkelanjutan. Program ini sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDGs 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), serta SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Sebagai desa yang tengah berkembang menjadi destinasi wisata, Sukaharja memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, termasuk limbah kayu dan bambu yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui program pengabdian ini, masyarakat diajak mengubah material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memperkuat karakter dan identitas desa wisata.

Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai konsep desain produk berkelanjutan, strategi pengembangan cenderamata khas desa wisata, hingga praktik langsung mengolah limbah kayu dan bambu menjadi berbagai produk kreatif. Produk yang diperkenalkan meliputi gantungan kunci, gantungan tas, aksesori berbentuk kipas, ornamen anyaman, rumbai bambu, serta berbagai hiasan dekoratif berbahan bilah bambu kering.

Jafar Sodik menjelaskan bahwa pengembangan ekonomi kreatif desa dapat dimulai dari pemanfaatan material sederhana yang tersedia di lingkungan sekitar. Menurutnya, limbah kayu dan bambu memiliki karakter visual yang unik dan berpotensi menjadi produk bernilai tambah apabila diolah dengan pendekatan desain yang tepat.

“Cenderamata desa wisata tidak harus berasal dari bahan mahal. Justru keunggulan produk lokal terletak pada keaslian material, cerita budaya, dan keterampilan masyarakat. Limbah kayu dan bambu dapat menjadi media kreatif yang memperkuat identitas khas Desa Sukaharja sekaligus membuka peluang usaha baru bagi warga,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Wesnina menegaskan bahwa penguatan kapasitas masyarakat melalui keterampilan kreatif merupakan bagian penting dari pembangunan desa yang berkelanjutan. Menurutnya, tren pasar saat ini menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap produk ramah lingkungan, berbasis kerajinan tangan, dan memiliki nilai budaya lokal yang kuat.

“Produk cenderamata yang baik bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki cerita. Ketika limbah kayu dan bambu diolah menjadi produk kreatif, masyarakat tidak hanya menghasilkan kerajinan, tetapi juga menghadirkan pesan tentang kepedulian lingkungan, kreativitas, dan identitas Desa Sukaharja sebagai desa wisata,” jelasnya.

Pelaksanaan kegiatan berlangsung secara partisipatif melalui sesi diskusi, demonstrasi, dan praktik langsung. Pendekatan tersebut memungkinkan peserta memahami proses produksi secara sederhana sehingga dapat diterapkan secara mandiri dan berkelanjutan setelah program berakhir.

Selain keterampilan produksi, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai teknik finishing, standar kualitas produk, desain yang menarik, hingga strategi pengemasan sederhana agar produk lebih kompetitif di pasar wisata. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan nilai jual produk sekaligus memperluas peluang pemasaran bagi masyarakat desa.

Melalui program ini, UNJ tidak hanya mendorong lahirnya produk kreatif berbasis limbah, tetapi juga membangun fondasi ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Pengembangan cenderamata berbasis bahan lokal mendukung terciptanya lapangan usaha baru bagi masyarakat (SDGs 8), memperkuat identitas dan daya tarik desa wisata yang inklusif dan berkelanjutan (SDGs 11), serta mendorong praktik produksi yang ramah lingkungan melalui pemanfaatan kembali limbah kayu dan bambu (SDGs 12).

Ke depan, hasil kegiatan ini diharapkan dapat berkembang menjadi katalog produk unggulan Desa Sukaharja, program pelatihan lanjutan, serta model pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi kreatif yang dapat direplikasi di berbagai desa wisata lainnya. Melalui inovasi yang berpijak pada potensi lokal, UNJ terus menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pengabdian yang berdampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.