UNJ Perkuat Layanan Mata Kuliah Umum untuk Bangun Karakter Mahasiswa

Ikuti kami

Bagikan

  1. Home
  2. »
  3. Berita
  4. »
  5. UNJ Tuan Rumah Sarasehan Diaspora Indramayu,…

Berita Terbaru

Kantor Humas dan IP UNJ Raih 5 Penghargaan Pada Ajang IDEAS 2025, Dari Juara Budaya Inklusif hingga Manajemen Krisis

Humas UNJ Raih Penghargaan 3 Tahun Berturut-turut pada Ajang AHI

Mengenal Batavia Team UNJ, Wadah Inovasi Kendaraan Hemat Energi dan Mobilitas Berkelanjutan

UNJ Tuan Rumah Sarasehan Diaspora Indramayu, Bahas Pengembangan Potensi Daerah

Dit. Mawani UNJ Apresiasi Peran Ormawa dan Opmawa Sukseskan PKKMB 2026

Kembangkan Layanan Kesehatan dan Sport Science, UNJ Resmikan UUK Pusat Rehabilitasi Medik

UNJ dan Royal University of Bhutan Jajaki Kerja Sama di Bidang Pendidikan

JAKARTA, Humas UNJ — Universitas Negeri Jakarta (UNJ) memperkuat pelaksanaan Layanan Mata Kuliah Umum (LMKU) melalui penyamaan persepsi dan pembekalan dosen pengampu. Langkah ini dilakukan untuk memastikan proses pembelajaran mata kuliah umum memiliki standar yang selaras, mulai dari materi, metode pembelajaran, hingga evaluasi di seluruh fakultas.

Kegiatan bertajuk “Penyamaan Persepsi dan Pembekalan Perkuliahan LMKU Semester 125” tersebut digelar di Aula Maftuchah Yusuf, UNJ, Senin (31/8/26). Kegiatan diikuti dosen pengampu Mata Kuliah Umum (MKU) dan Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK) dari berbagai fakultas di lingkungan UNJ.

Direktur Akademik UNJ, Agung Premono mengatakan, penyamaan persepsi diperlukan agar mahasiswa memperoleh pengalaman pembelajaran yang memiliki standar akademik yang sama, meskipun mengikuti perkuliahan di fakultas yang berbeda.

“Penyamaan persepsi ini dilakukan agar materi yang disampaikan sama, metode pembelajarannya sama, maupun evaluasinya juga sama,” ujar Agung.

Foto: Direktur Akademik UNJ, Agung Premono saat menyampaikan sambutan

Menurut Agung, pelaksanaan LMKU tidak sebatas memastikan mahasiswa memahami materi perkuliahan. Mata kuliah tersebut juga memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter mahasiswa melalui penguatan wawasan kebangsaan, nilai-nilai Pancasila, serta kesalehan sosial.

“Mahasiswa tidak hanya sekadar tahu ajarannya, tetapi juga bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sosial,” katanya.

Ia menjelaskan, penyamaan persepsi mencakup pelaksanaan Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK), Mata Kuliah Penciri Universitas, dan MKDK. Kesamaan pemahaman di antara dosen dinilai penting agar tujuan pembelajaran, metode, dan sistem evaluasi dapat diterapkan secara konsisten.

Ketua Badan Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (BP3) UNJ, Prof. Johansyah Lubis mengatakan evaluasi menjadi bagian penting dalam pengembangan kualitas LMKU. Masukan dari mahasiswa dan berbagai pihak perlu digunakan sebagai bahan perbaikan penyelenggaraan pembelajaran.

“Evaluasi ini penting karena BP3 yang mewadahi kegiatan LMKU tetap mendapatkan masukan dari mahasiswa dan pihak lainnya. Tujuannya agar pelaksanaan ke depan dapat menjadi lebih baik lagi,” ujar Prof. Johansyah.

Ia menambahkan, penyamaan persepsi juga menjadi forum untuk memastikan pelaksanaan pembelajaran MKWK dan MKDK sesuai dengan regulasi kementerian serta standar akademik yang berlaku.

“Ada standar yang harus disesuaikan dengan peraturan yang ada dan tidak boleh sembarangan melaksanakannya. Dari pertemuan ini, apabila masih ada yang kurang, maka perlu disesuaikan strateginya,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Pusat Layanan Mata Kuliah Umum, Humaidi menjelaskan bahwa MKWK dan Mata Kuliah Penciri Universitas memiliki peran penting dalam membangun karakter mahasiswa. Pembelajaran diarahkan untuk mengembangkan integritas, wawasan kebangsaan, serta kemampuan berpikir kritis dan logis.

Menurut Humaidi, pembelajaran mata kuliah umum perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang menghubungkan pengetahuan dengan persoalan kehidupan nyata.

“MKWK hendaknya dipahami sebagai sebuah ekosistem yang saling terkait dan bukan sekadar hafalan dan kewajiban,” ujarnya.

Humaidi mengatakan pelaksanaan LMKU juga diarahkan untuk mendukung penerapan Outcome-Based Education (OBE), pencapaian pembelajaran lulusan, Sustainable Development Goals (SDGs), dan pengembangan konsep kampus berdampak. Pendekatan tersebut diharapkan membentuk lulusan yang adaptif, inovatif, kolaboratif, sekaligus memiliki daya saing global.

Dalam kesempatan tersebut, Humaidi juga mengingatkan pembimbing akademik agar memberikan informasi yang tepat kepada mahasiswa terkait pilihan mata kuliah agama. Mahasiswa dianjurkan mengambil mata kuliah agama sesuai dengan agama yang dianut.

Selain pendidikan agama, LMKU mencakup materi yang berkaitan dengan pembentukan karakter dan identitas kebangsaan. Bahasa Indonesia, misalnya, tidak hanya ditempatkan sebagai keterampilan berbahasa, tetapi juga sebagai sarana menalar dan berekspresi. Sementara pendidikan agama diarahkan untuk memperkuat spiritualitas dan etika.

Pancasila juga ditempatkan sebagai konsensus filosofis dan nilai dasar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Adapun pendidikan kewarganegaraan diarahkan agar mahasiswa memahami sekaligus mempraktikkan kehidupan bernegara.

Humaidi menekankan pentingnya pembelajaran yang membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami keberagaman perspektif, termasuk dalam kehidupan beragama. Pendekatan tersebut diperlukan untuk memperkuat toleransi dan membangun kehidupan sosial yang harmonis.

Melalui penyamaan persepsi dan pembekalan tersebut, UNJ berupaya memastikan LMKU tidak hanya memenuhi standar akademik, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan yang membentuk karakter, integritas, wawasan kebangsaan, dan kepedulian sosial mahasiswa.